13 Juni 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

Wakil Bupati Kepulauan Sangihe ‘Tiba-Tiba’ Meninggal di Pesawat, Apa Penyebabnya?

(Jenazah Wakil Bupati Kepulauan Sangihe Helmud Hontong di kapal laut menuju Tahuna, Kamis malam, 10 Juni 2021. Foto: Istimewa)

realitaindonesia.com – Kepergian Wakil Bupati Kepulauan Sangihe, Helmud Hontong
masih meninggalkan sejumlah tanya di kalangan masyarakat.

Sebab, kepergiannya yang dinilai ‘tiba-tiba’ saat berada di dalam pesawat tersebut,
menimbulkan tanda tanya besar.

Sebelumnya, Helmud Hontong meninggal dunia saat terbang bersama pesawat Lion Air
dengan nomor penerbangan JT-740.

Di dalam pesawat tersebut, Wabup Kepulauan Sangihe tersebut menempati seat 25E dan
ditemani oleh Harmen Kontu selaku ajudan yang duduk di seat 25F.

Beberapa saat setelah pesawat lepas landas, Helmud Hontong tiba-tiba terbatuk-batuk
hingga mengeluarkan darah dari hidung dan mulut.

Pada pukul 15.40 WITA, Helmud Hontong dilaporkan membutuhkan pertolongan medis
lebih lanjut, dan langsung dihampiri oleh pimpinan awak kabin bersama kru kabin guna
mengetahui kondisi aktual penumpang.

Kemudian pukul 16.17 WITA saat di bandara Hasanudin Makassar, dokter dan perawat
segera naik ke pesawat untuk mengecek kondisi Helmud Hontong yang sudah tidak
sadarkan diri.

Setelah melakukan pemeriksaan, dokter pun menyatakan bahwa Helmud Hontong telah
meninggal dunia.

Sementara pihak Lion Air menjelaskan bahwa penerbangan JT-740 mereka telah
dipersiapkan secara baik.

Baca Juga :   Akibat Covid-19, Pendapatan Perusahaan Energi Tertekan!

Semua penumpang serta awak pesawat juga telah menjalani pemeriksaan kesehatan
Covid-19 dan dinyatakan negatif sebelum masuk ke pesawat.

Saat berada di terminal keberangkatan, surat hasil uji kesehatan itu sudah diverifikasi
petugas medis dari lembaga yang berwenang.

“Berita duka. Wakil Bupati Kep. Sangihe, Helmud Hontong meninggal dunia dalam
perjalanan di Pesawat Lion Air, Rabu 9 Juni 2021,” kicau pihak Jaringan Advokasi
Tambang Nasional (Jatamnas), dikutip Pikiran-Rakyat.com dari akun Twitter @jatamnas,
Jumat, 11 Juni 2021.

Jatamnas juga menyoroti sikap Helmud Hontong yang diberitakan mendukung
penentangan terhadap rencana tambang emas di pulau Sangihe.

“Helmud, menurut pemberitaan sejumlah media, ikut mendukung dan menentang rencana
tambang emas di pulau kecil Sangihe. Kami ikut berduka,” kicaunya.

Jatamnas pun mengutip sejumlah pernyataan Helmud Hontong terkait rencana
penambangan emas di Sangihe.

“Saya dengan tegas menolak keberadaan PT Tambang Mas Sangihe beroperasi di
Sangihe. Apa pun alasannya. Saya berdiri bersama rakyat, karena rakyat yang memilih
saya sampai menjadi Wakil Bupati,” tutur Helmud Hontong.

Baca Juga :   OJK : Induk Shopee Akuisisi Saham Bank Kesejahteraan Ekonomi

Selain itu, Helmud Hontong juga menuturkan rasa kasihannya karena rakyat hingga anak
cucu nanti yang akan menjadi korban pengelolaan emas tersebut.

Kepergian Helmud Hontong pun tampaknya masih mengusik sebagian masyarakat,
karena munculnya foto surat penolakan rencana tambang emas di pulau Sangihe.

Dalam foto yang beredar, Helmud Hontong menandatangani surat yang ditujukan kepada
Menteri ESDM Indonesia.

Surat tersebut berisi permohonan pertimbangan untuk pembatalan izin operasi Kontrak
Karya PT Tambang Mas Sangihe (PT TMS) yang diberikan Kementerian ESDM.

Pasalnya, rencana pertambangan di pulau Sangihe yang tergolong kecil tersebut
berpotensi merusak lingkungan, daratan, pantai, komunitas mangrove, terumbu karang,
dan biota yang ada di dalamnya.

Bahkan secara signifikan, tambang emas itu berpotensi meningkatkan toksisitas
lingkungan secara masif yang akan membawa dampak negatif terhadap manusia dan
biota alam.

Selain itu, penguasaan wilayah pertambangan juga akan berdampak pada hilangnya
sebagian atau keseluruhan hak atas tanah dan kebun masyarakat, bahkan masyarakat
secara terstruktur akan terusir dari tanahnya sendiri.

Baca Juga :   Sudah Resmi Dijual Di Indonesia, OPPO Reno5G!

Kemudian belajar dari pengalaman wilayah lain secara khusus di Sulawesi Utara,
kegiatan pertambangan hanya memberi keuntungan pada pemegang kontrak karya, tapi
tidak memberi kesejahteraan bagi masyarakat, bahkan meninggalkan kerusakan
lingkungan yang fatal.

Gelombang penolakan dari rakyat pun terjadi secara masih, bahkan hingga muncul
sebuah petisi yang saat ini telah ditandatangani oleh lebih dari 47 ribu orang.

Oleh karena itu, kepergian Helmud Hontong pun dinilai ‘tiba-tiba’ oleh masyarakat,
terlebih dengan munculnya surat penolakan tambang emas tersebut.

Banyak yang merasa khawatir kepergiannya berkaitan dengan surat penolakan rencana
tambang emas di Sangihe, meski sampai saat ini belum ada bukti atau kejelasan terkait
hal itu.

Bahkan, kepergian Helmud Hontong ini juga disebut sebagai Munir 2.0, karena tampak
memiliki kejadian yang hampir serupa.

Apalagi, penyebab meninggalnya Helmud Hontong pun sampai saat ini masih belum
diketahui.

***

 

Artikel ini sebelumnya tayang di :
https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-012036775/misteri-kepergian-helmud-
hontong-meninggal-di-pesawat-usai-tolak-tambang-emas-sangihe

Bagikan :
error: Content is protected !!