24 Juli 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

UU Pun Tak Tuntas Tahun Ini, Dan Harga Belum Kompetitif Dari Kendala EBT

Realita Indoneisa –  Upaya Indonesia untuk mempercepat transformasi penggunaan energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT) ternyata tak semudah dibayangkan. Kendala utama EBT adalah harga yang belum kompetitif dibandingkan energi fosil.

Di sisi lain, RUU EBT yang salah satunya mengatur soal harga tersebut diperkirakan tidak akan selesai tahun ini. “Selama ini terkendala terbesar dari sisi harga. EBT ini kurang kompetitif dibandingkan dengan fosil. Makanya, nanti upaya apa saja yang harus dilakukan agar EBT bisa lebih kompetitif,” tutur anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dyah Roro Esti.

Dyah mengungkapkan hambatan dalam pengembangan EBT adalah belum adanya payung hukum yang mengatur secara keseluruhan. Padahal Indonesia telah menandatangani Paris Agreement pada 2015. Indonesia bahkan telah meratifikasi kesepakatan tersebut menjadi UU Nomor 16/2016 tentang Pengesahan Paris Agreement To United Nations Framework Convention on Climate Change.

Baca Juga :   Polemik AstraZeneca, Wamenag : Tak Perlu Ragu Pakai AstraZeneca, MUI dan BPOM Sudah Mengizinkan

Di luar pembahasan RUU, Komisi VII mendorong pemerintah untuk memperbanyak pembangunan pembangkit EBT dalam program 35.000 MW. Dyah menerangkan wilayah Indonesia memiliki sumber EBT yang melimpah. “Misalnya di Indonesia Timur itu tenaga surya. Di Sulawesi itu tenaga angin. Setiap wilayah mempunyai specialty yang berbeda-beda. Kita harus maksimalkan,” tegasnya.

Editor : Realita Indonesia
Sumber : sindonews.com
Bagikan :
error: Content is protected !!