Realita Indonesia – Sejumlah prajurit TNI dan Polri saat ini bersiaga di Kampung Banti, Opitawak, dan Tagabra, Distrik Tembagapura untuk menjaga keamanan warga yang memutuskan kembali ke kampung halaman mereka setelah 10 bulan mengungsi di Kota Timika, Papua.

“Untuk pengamanan, sudah siap. Sudah ada pasukan TNI dan Polri di sana untuk membantu pengamanan warga yang kembali ke kampungnya,” kata Komandan Kodim 1710 Mimika Letkol Inf. Yoga Cahya Prasetya di Timika, Kamis.

Setelah hengkangnya sejumlah faksi kelompok kriminal bersenjata (KKB) dari wilayah Banti dan sekitarnya pada tahun 2020, aparat membangun empat pos TNI/Polri di wilayah Banti 1, Banti 2, Tagabra dan Opitawak, Distrik Tembagapura.

Tiga dari empat pos itu kini ditempati pasukan TNI dari Yonif 756/WMS yang tergabung dalam Satgas Pengamanan Daerah Rawan dan pasukan Brimob BKO dari Polda Kepulauan Riau.

Dandim Mimika memastikan situasi keamanan di kawasan Banti dan sekitarnya saat ini relatif cukup aman.

“Intinya dari keamanan sudah ada pos di sana. Sampai sekarang ini situasi di sana cukup aman,” katanya menjelaskan.

Mengenai pemulangan warga Banti dan Opitawak dari Timika ke Tembagapura saat ini, Dandim memastikan tidak ada pihak lain, termasuk pendulang emas yang ikut dalam rombongan pengungsi dari tiga kampung itu.

Tidak ada orang lain yang ikut ke Tembagapura bersama masyarakat. Semuanya masyarakat dari Kampung Banti dan Opitawak. Identitas mereka semua sudah terdata oleh pemerintah daerah melalui kepala kampung dan Kepala Distrik Tembagapura.

“Sesuai dengan hasil rapat beberapa waktu lalu di DPRD Mimika, yang diizinkan kembali ke kampung hanya masyarakat yang memang selama ini tinggal di Tembagapura,” kata Letkol Yoga.

Jajaran TNI dan Polri di Mimika, kata dia, mendukung keputusan Pemkab Mimika untuk memulangkan warga Kampung Banti dan Opitawak. Pemulangan ribuan pengungsi itu akan secara bertahap mulai Rabu (20/1) setelah mereka wajib mengikuti pemeriksaan kesehatan.

Sesuai dengan rencana yang sudah disepakati, pemulangan warga pengungsi itu sebanyak empat kali dalam sepekan, yaitu hari Senin hingga Kamis, menggunakan armada bus karyawan PT Freeport Indonesia.

Ia mengatakan bahwa pada hari Jumat hingga Minggu tidak ada layanan bus untuk warga pengungsi dari Timika ke Tembagapura lantaran sarana transportasi milik Freeport itu untuk mengangkut karyawan, baik yang turun dari Tembagapura ke Timika maupun yang akan naik dari Timika ke Tembagapura.