13 Juni 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

Tim Satgas KPK otal mengamankan 17 orang dalam OTT yang dilakukan pada Rabu (25/11).

Realita Indonesia – Tim satgas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) total mengamankan 17 orang dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan pada Rabu (25/11) dini hari. Penangkapan terhadap 17 orang tersebut dilakukan di Jakarta, Depok, dan Bandara Soekarno-Hatta.

“Jumlah yang diamankan petugas KPK seluruhnya saat ini 17 orang, di antaranya adalah Menteri Kelautan dan (KKP) Perikanan beserta istri dan beberapa pejabat di KKP. Di samping itu juga beberapa orang pihak swasta,” ujar Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Rabu (25/11).

Menteri KKP Edhy Prabowo dan belasan orang lainnya diamankan lantaran diduga terlibat tindak pidana korupsi penetapan izin ekspor benih lobster atau benur. Sesuai KUHP, KPK memiliki waktu 1×24 untuk menentukan status hukum Menteri Edhy Prabowo, istrinya Iis Rosita Dewi dan belasan orang lainnya yang turut diamankan.

“Perkembangannya akan kami sampaikan lebih lanjut,” kata Ali.

Baca Juga :   'Kalau Bertanya Saja Tidak Boleh, Apalagi Mengkritik' Ujar Jusuf Kalla

Ali Fikri mengatakan, penangkapan terhadap Menteri Edhy dan lainnya berdasarkan penugasan resmi dari pimpinan KPK. Bahkan, KPK menerjunkan tiga kasatgas dalam operasi ini. Salah satu kasatgas yang terjun menangkap Menteri Edhy Prabowo adalah Novel Baswedan.

“Salah satu Kasatgas tersebut benar Novel Baswedan,” kata Ali.

Menteri Edhy diketahui baru saja melakukan kunjungan kerja ke Hawaii, Amerika Serikat, untuk urusan di sektor perikanan. Menteri Edhy mengatakan tujuannya ke Hawaii adalah untuk mempelajari produksi benih-benih udang, khususnya vaname yang hendak dia kembangkan di Tanah Air.

Diketahui, pada bulan Juli lalu, kebijakan melegalkan ekspor benih lobster memang sempat menuai beragam pro dan kontra.

Menteri Edhy mengatakan, pihaknya tidak menutup-nutupi pemberlakuan kembali izin ekspor benih lobster. Dia menegaskan, sebelum izin tersebut keluar, pihaknya telah melakukan kajian mendalam terlebih dulu.

“Masalah lobster, peraturan yang kita evaluasi itu tidak muncul begitu saja atau hanya karena kebutuhan seorang menteri. Kami melakukan telaah dan penelitian oleh ahli yang ada. Baik melalui kajian, melalui konsultasi publik,” kata Edhy di Gedung DPR RI beberapa waktu lalu.

Baca Juga :   Lirik E-Commerce Hingga Keuangan, AirAsia Ekspansi Ke Bisnis Digital

Alasan kuat KKP mengizinkan ekspor benih lobster untuk membantu belasan ribu nelayan kecil yang kehilangan mata pencaharian akibat terbitnya Permen KP 56/2016. Permen tersebut melarang pengambilan benih lobster baik untuk dijual maupun dibudidaya.

Bahkan, dia menjelaskan ada 13.000 nelayan yang menggantungkan hidup dari mencari benih lobster. Diakuinya hal ini memang menjadi perdebatan karena akibat ekspor dilarang nelayan tidak bisa makan.

“Mereka tidak punya pendapatan. Ini sebenarnya pertimbangan utama kami,” tegas Edhy beberapa.

Lebih lanjut dia menerangkan, perusahaan yang mendapat izin ekspor pun tidak asal tunjuk. Mereka tetap harus melewati proses administrasi hingga uji kelayakan. Dalam hal ini KKP membentuk panitia untuk menyeleksi perusahaan penerima izin.

Baca Juga :   Duh! Ridwan Kamil Nilai Tidak Bisa Memenangkan Ekonomi dan Kesehatan Sekaligus

Kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo melegalkan ekspor benih lobster sempat menuai kontra. Salah satunya datang langsung dari Susi Pudjiastuti yang juga sebelumnya menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019.

KKP mengaku memiliki alasan kuat membuka kemungkinan keran ekspor bibit lobster. Namun rencana Menteri Edhy itu berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Susi. Sebab pada saat menjabat Susi sangat melarang ekspor benih lobster untuk melindungi bibit lobster dan meningkatkan kesejahteraan nelayan.

“Saya memang tidak rela bibit lobster diekspor,” tulis Susi melalui cuitan twitternya, seperti dikutip merdeka.com, Selasa (7/7).

Dia melanjutkan, sebagai rakyat biasa, dirinya memang sangat tidak rela jika bibit lobster diekspor. “Saya rakyat biasa yang tidak rela bibit diekspor,” tandas Susi.

Sumber : Merdeka.com

Editor : Realita Indonesia

Bagikan :
error: Content is protected !!