Selain Borobudur dan Gamelan, Berikut 10 Daftar Warisan Budaya Indonesia yang Diakui UNESCO

realitaindonesia.com – Sebagai negara yang kaya keanekaragaman, Indonesia memiliki berbagai warisan budaya yang layak dilestarikan. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai sulit ditemukan. Karena itulah, pemerintah tengah menggalakkan pengenalan sejumlah warisan budaya tanah air kepada dunia. Beberapa di antaranya yang kini sudah diakui secara internasional adalah batik dan baru-baru ini seni beladiri pencak silat.

Nah, berikut ini beberapa warisan budaya asli Indonesia yang sudah resmi diakui dunia, tepatnya oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization atau UNESCO.

1. Pencak Silat

©Pixabay

Pencak silat adalah seni beladiri yang berkembang di Indonesia dengan berbagai aliran. Beladiri ini mulai dikenal dunia pula berkat aktor-aktor laga Indonesia yang mulai mencuat namanya ke kancah internasional.

Dilansir Antara, Jumat (13/12/2019), pencak silat resmi masuk ke dalam daftar Intergovernmental Committee UNESCO. Kabar ini disampaikan Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Nadjamuddin Ramly.

Penetapannya dilakukan Pimpinan Sidang Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO ke-14 Madam Maria Claudia Lopez Sorzano selaku Wakil Menteri Kebudayaan dan Rekreasi Kolombia.

2. Angklung

©Pixabay

Alat musik berbahan bambu dari tanah Sunda ini memang unik. Dimainkan dengan cara digoyang-goyangkan hingga menghasilkan nada tertentu.
Keberadaan angklung di Indonesia masih lestari, karena edukasi dan pengenalan alat musik ini masih terus dilakukan. Indonesia bahkan punya museum angklung, yaitu Saung Angklung Udjo di kota Bandung. Alat musik ini juga sudah diakui oleh UNESCO sejak tahun 2010.

Baca Juga :   11 Proyek Infrastruktur Dihentikan Demi Tangani Pandemi Covid-19, Jadi Bukti Keseriusan Pemda Jabar

3. Perahu Pinisi

©Pixabay/JonathanSheridanJones

Pinisi, perahu layar yang diwariskan tradisi maritim masyarakat Bugis menjadi bagian dari Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 2017 dalam kategori daftar perwakilan. Kapal ini juga rutin dibawa berkeliling dunia oleh para taruna AL. Sementara teknik pembuatannya masih diturunkan oleh para pelaut Bugis hingga saat ini.

4. Tari Saman

Liputan6.com/Rino Abonita

Jenis tarian yang satu ini merupakan bagian dari tradisi masyarakat Gayo, Aceh. Ternyata tarian ini sudah menjadi bagian dari Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak tahun 2011.

Tari saman biasanya ditampilkan oleh para pria secara berkelompok dengan gerakan yang berselang-seling. Biasanya kesenian ini muncul pada upacara keagamaan dan tak jarang ditampilkan di Istana Negara saat hari raya nasional.

Tari Saman dimasukkan ke dalam kategori budaya yang membutuhkan perlindungan mendesak, pasalnya para seniman yang mendalami tari saman sudah mulai menua, dan generasi penerusnya pun hampir tak ada lagi.

5. Noken

©Shutterstock

Noken, sebutan untuk tas rajut tradisional dari Papua memang sudah diakui sebagai bagian dari tradisi provinsi paling timur Indonesia tersebut. Namun tak banyak yang tahu kalau produksi dan penggunaan tas ini sudah semakin jarang, sehingga noken masuk daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO dalam kategori yang membutuhkan perlindungan mendesak.

Produksi noken semakin berkurang sebagai akibat dari persaingan dengan tas buatan pabrik dan kesulitan mendapatkan bahan baku. Ini menyebabkan nilai tradisinya ikut meluntur pula.

Baca Juga :   Ramai Diperbincangkan, Institut Teknologi Surabaya Meluncurkan Penelusuran ITS Tertulis

6. Keris

©Shutterstock

Senjata tradisional dari Jawa ini dimasukkan dalam daftar ICH UNESCO pada 2008, meski sudah diproklamirkan pada 2005. Keris masuk ke dalam kategori daftar perwakilan karena masih sering dipakai dalam upacara khusus maupun sehari-hari. Biasanya digunakan sebagai bagian dari busana adat atau sebagai benda pusaka yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat Jawa sendiri masih memelihara tradisi ritual mencuci keris setahun sekali.

7. Tari Bali

©Shutterstock

Tiga genre tari Bali sudah masuk daftar ICH UNESCO pada 2015, yaitu tarian keramat, semi-keramat, dan hiburan semata. Tarian memang termasuk bagian tak terpisahkan dari upacara dan ritual-ritual penting di Bali. Aspek kesenian yang satu ini juga menjadi salah satu daya tarik utama bagi para wisatawan yang berkunjung ke pulau dewata. Bahkan para penarinya pun sudah diajarkan kesenian tersebut sejak usia dini.

8. Batik

©Shutterstock

Kain bermotif yang jadi kebanggaan nusantara itu telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009.

Sekarang ini batik sudah menjadi bagian dari busana nasional. Setiap orang bisa mengenakan batik untuk segala kesempatan. Tetapi di masa lalu batik dianggap sebagai warisan budaya yang cukup sakral. Teknik pembuatan batik diwariskan secara turun-temurun. Begitu juga dengan motif batik yang dianggap mewakili status sosial pemakainya. Ada batik saudagar yang dibuat oleh masyarakat kelas pedagang, batik petani yang dibuat dan dikenakan oleh kaum petani, serta batik keraton yang khusus dibuat untuk keluarga kerajaan.

Baca Juga :   Kenapa Sikap Proaktif Sangat Penting Untuk Penanganan Problematika Sampah Plastik

9. Wayang Kulit

Pada tahun 2003 lalu, UNESCO menetapkan wayang kulit sebagai warisan budaya Indonesia yang indah dan berharga. Sampai saat ini, pertunjukan wayang masih sering ditemui di tanah Jawa, terutama di acara pernikahan, sunatan, atau sebagai hiburan tahunan di pedesaan dan pinggiran kota.

Tradisi wayang kulit kerap dikaitkan pula dengan penyebaran agama dan nilai-nilai moral. Sebagian besar ceritanya berasal dari kisah epik Mahabharata, Ramayana, atau cerita Panji. Profesi dalang, pelakon wayang pun masih diturunkan hingga sekarang.

10. Subak

Subak adalah sebutan untuk sistem irigasi persawahan tradisional yang dipertahankan masyarakat Bali hingga saat ini. Subak resmi diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia dari Indonesia pada tahun 2012 lalu, meliputi empat kawasan sebagai satu kesatuan terdiri atas Catur Angga Batukaru di Kabupaten Tabanan, Pura Taman Ayun di Kabupaten Badung, Hulu Sungai Pakerisan, Kabupaten Gianyar, serta Pura Ulun Danu Batur dan Danau Batur di Kabupaten Bangli.

Penetapan tersebut dilakukan dalam sidang UNESCO yang digelar di St Petersburg, Rusia. Sistem subak memiliki keunikan berupa pengaturan irigasi yang adil bagi setiap pemilik sawah.

 

Artikel ini telah tayang di Merdeka.com,Reporter : Tantri Setyorini

Bagikan :

Next Post

Siapkan Teleskop, Asteroid Berukuran Dua Kali Lapangan Bola Akan Melintasi Bumi Sore Ini

Sab Jun 5 , 2021
realitaindonesia.com – Asteroid berukuran kurang lebih hingga 160 meter atau seluas dua kali lapangan sepak bola akan melintas mendekati Bumi pada Sabtu (5/6/2021) pukul 15.29 WIB. Asteroid itu bernama 2021 KF2. Peneliti dari Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Andi Pangerang mengungkapkan, fenomena ini tidak bisa disaksikan […]

Breaking News

error: Content is protected !!