Pilot Menjelaskan Bahwa Pesawat Takut Burung Hingga Layangan.

Realita Indonesia – Burung hingga layangan ternyata dapat membahayakan pesawat terbang. Pilot Citilink menjelaskan bila pesawat berhadapan dengan keduanya.

Kejadian pesawat menabrak burung (bird strike) telah beberapa kali terjadi. Yang terbaru, pesawat Boeng Co 757 yang ditumpangi Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence harus mendarat darurat usai menabrak seekor burung pada 22 September 2020.

Kejadian yang lebih parah terjadi pada era 1990-an, di mana kecelakaan karena burung itu sampai menimbulkan korban jiwa. Contohnya pada 1960 ketika pesawat Lockheed L-188 Electra terbang melewati 120 burung saat lepas landas yang menyebabkan mesin rusak sehingga pesawat menabrak pelabuhan dan menewaskan 62 penumpang.

Baca Juga :   Mendagri : Ingin Apkasi Tangani Pandemi Sekaligus Pemulihan Ekonomi

Berkaca dari kejadian-kejadian tersebut, detikTravel pun bertanya kepada pilot Citilink, Captain Ikram dalam wawancara eksklusif beberapa waktu lalu. Captain Ikram menjelaskan, meskipun dari segi ukuran burung kalah jauh dari pesawat, tetap saja dapat berbahaya bila melintas apalagi tertabrak.

“Kalau terkena satu mesin, pesawat masih bisa jalan. Tapi kalau dua-duanya bagaimana? Biarpun burung sekecil itu, kalau ada partikel yang masuk ke dalam mesin, bisa menyebabkan kecelakaan,” katanya.

Partikel dari burung yang masuk ke dalam mesin pesawat dapat menyebabkan pompa kompresor mogok. Akibatnya terjadi getaran hebat, ledakan, dan hilangnya dorongan mesin pesawat.

Tak hanya itu, bila burung menabrak kaca depan pesawat dan pecah, serpihan kaca itu dapat melukai pilot sehingga pilot kesulitan mengendalikan pesawat dan dapat terjadi kecelakaan.

Baca Juga :   Personel Satuan Reserse Kriminal Polresta Pekanbaru menjemput Ketua FPI Pekanbaru.

Selain burung, baru-baru ini layang-layang juga dapat menjadi ancaman bagi penerbangan. Kejadian layang-layang yang tersangkut di roda Citilink memang tak menimbulkan kerusakan pada mesin namun tetap menjadi perhatian, khususnya bagi pilot yang mengemudikan pesawat.

“Kalau misalnya masalah burung, layang-layang, karena itu di daerah pemukiman yang padat penduduknya, kalau di penerbangan finalnya kita, begitu mau mendarat ternyata ada saja orang yang main layangan, ada burung-burung lewat, kita tunda dulu pendaratannya,” ujarnya.

Namun tak perlu khawatir, pilot telah dibekali ilmu dan kemampuan untuk mengatasi segala kemungkinan terburuk itu. Dibantu co-pilot dan ATC, mereka akan mengawasi kondisi di sekitar lokasi take-off atau landing karena biasanya kejadian itu terjadi pada tahap ini.

Baca Juga :   DPRD Minta Pemkot Bekasi Tutup Tempat Hiburan, Karena Berisiko Tinggi tapi Dampak Ekonomi Kecil

“Kita pastikan dulu area kita mendarat bebas dari layangan. Kalau terjadi kerusakan pun sudah ada prosedurnya,” kata dia.

Akan tetapi ia bersama co-pilot Citilink, Diana mengimbau agar masyarakat yang tinggal di sekitar bandara dapat lebih peka untuk tidak bermain layang-layang untuk mencegah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Untuk warga di pemukiman sekitar bandara, mohon berhati-hati bila bermain layangan supaya tidak mengganggu penerbangan,” kata Diana.

Sumber : Detiktravel

Editor : Realita Indonesia

Bagikan :

Next Post

Kemenag Dan Kemendikbud Dipinta Untuk Benahi Distribusi Dan Kapasitas Guru

Kam Nov 19 , 2020
Realita Indonesia – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akhirnya memperhatikan kondisi tenaga pendidik dan kependidikan non-pegawai negeri sipil (PNS). Mereka akan mendapatkan bantuan subsidi upah (BSU) sebesar Rp1,8 juta. Bantuan ini tentu berarti bagi para guru dan tenaga kependidikan honorer. Mereka terdampak pandemic Covid-19. Apalagi penghasilan mereka rata-rata tidak sebesar […]

Breaking News

error: Content is protected !!