Olahraga elektronik (esports) telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan turnamen besar yang diadakan secara global dan hadiah uang yang mencapai jutaan dolar. Namun, meskipun popularitasnya terus meningkat, pertanyaan yang masih sering muncul adalah apakah esports benar-benar dapat dianggap sebagai olahraga yang sah atau sekadar hiburan sementara?
Esports adalah kompetisi permainan video yang melibatkan pemain profesional bertarung satu sama lain dalam berbagai permainan seperti Dota 2, League of Legends, dan Counter-Strike. Seperti olahraga tradisional, esports melibatkan keterampilan, strategi, dan latihan intensif. Namun, perbedaan utama adalah tidak ada aktivitas fisik yang terlibat—esports lebih menekankan pada keterampilan mental dan koordinasi tangan-mata.
Dari sisi perkembangan, esports semakin diterima oleh berbagai komunitas dan bahkan masuk ke dalam program olahraga perguruan tinggi. Beberapa universitas di seluruh dunia telah menawarkan beasiswa esports dan membentuk tim untuk bersaing di liga profesional. Meskipun demikian, skeptisisme masih ada, terutama di kalangan penggemar olahraga tradisional yang berpendapat bahwa esports tidak dapat dikategorikan sebagai olahraga yang sah tanpa adanya aktivitas fisik.
Namun, ada beberapa alasan yang mendukung ide bahwa esports berhak mendapatkan pengakuan yang sama. Pertama, seperti olahraga tradisional, esports membutuhkan dedikasi, latihan, dan strategi. Pemain esports berlatih berjam-jam untuk mengasah keterampilan mereka dalam permainan dan berkompetisi di tingkat profesional. Kedua, esports memiliki basis penggemar yang besar, dengan jutaan orang menonton turnamen langsung melalui platform streaming seperti Twitch dan YouTube.
Ke depannya, apakah esports akan diterima sebagai olahraga yang sah masih menjadi perdebatan. Namun, dengan dukungan yang semakin besar dari industri dan institusi pendidikan, masa depan esports sangat cerah.