13 Juni 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

Mental Breakdown: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

realitaindonesia.com – Mental breakdown secara umum dipahami atau digambarkan sebagai pengalaman ketika seseorang mengalami tekanan psikologis yang menghadirkan beberapa gejala spesifik. Selama periode ini, penderita tidak dapat berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa gejala mental breakdown di antaranya adalah kesedihan, kekhawatiran, stres berat, perubahan kebiasaan makan dan tidur, ingin menarik diri dari teman dan keluarga, dan merasa kewalahan.

Sangat penting untuk mengidentifikasi dan mencari bantuan profesional untuk mendapatkan pemahaman tentang apa yang menyebabkan atau berkontribusi pada perasaan mental breakdown ini.

Beberapa peristiwa besar dalam hidup dapat menyebabkan seseorang merasakan apa yang disebut mental breakdown, seperti kondisi medis kronis, kurang tidur, peristiwa traumatis, kehilangan keluarga, stres di tempat kerja, atau masalah keuangan.

Berikut uraian selengkapnya mengenai apa saja yang perlu Anda ketahui tentang mental breakdown.

Mengenal Apa Itu Mental Breakdown

Istilah “mental breakdown” terkadang digunakan oleh orang-orang untuk menggambarkan situasi stres di mana mereka untuk sementara tidak dapat berfungsi secara normal dalam kehidupan sehari-hari, mengutip dari mayoclinic.org.

Kondisi ini umumnya dipahami terjadi ketika tuntutan hidup menjadi berlebihan secara fisik dan emosional. Istilah ini sering digunakan di masa lalu untuk mencakup berbagai gangguan mental, tetapi tidak lagi digunakan oleh para profesional kesehatan mental saat ini.

Mental breakdown bukanlah istilah medis, juga tidak menunjukkan penyakit mental tertentu. Tapi hal ini tidak berarti mental breakdown adalah respons normal atau sehat terhadap stres.

Mental breakdown digunakan oleh banyak orang untuk menggambarkan gejala stres yang intens dan ketidakmampuan untuk mengatasi tantangan hidup.

Baca Juga :   Bisa Lebih Cepat Pulih, Wamenparekraf Yakin Dan Tetap Optimis Tentang Pariwisata RI

Apa yang orang lain lihat sebagai mental breakdown juga bisa menjadi penyakit mental yang tidak terdiagnosis. Mental breakdown dapat mengindikasikan masalah kesehatan mental mendasar yang membutuhkan perhatian, seperti depresi atau kecemasan.

Gejala Mental Breakdown

Saat mengalami mental breakdown, Anda mungkin mengalami beberapa gejala fisik, psikologis, dan perilaku. Gejala mental breakdown bervariasi dari orang ke orang. Penyebab yang mendasarinya juga dapat mempengaruhi gejala apa yang akan dialami.

Karena istilah ini tidak lagi digunakan dalam komunitas medis, mental breakdown telah dijelaskan dengan menggunakan berbagai macam gejala. Melansir dari healthline.com, berikut gejala mental breakdown yang paling umum:

  • Gejala depresi, seperti kehilangan harapan dan pikiran untuk bunuh diri atau melukai diri sendiri
  • Kecemasan dengan tekanan darah tinggi, otot tegang, tangan berkeringat, pusing, sakit perut, dan gemetar atau gemetar
  • Insomnia
  • Halusinasi
  • Perubahan suasana hati yang ekstrem atau ledakan emosi yang tidak dapat dijelaskan
  • Serangan panik, yang meliputi nyeri dada, keterpisahan dari kenyataan dan diri sendiri, ketakutan ekstrem, dan kesulitan bernapas
  • Paranoia, seperti percaya seseorang sedang mengawasi atau menguntit Anda
  • Kilas balik peristiwa traumatis, yang dapat menunjukkan gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang tidak terdiagnosis

Orang-orang yang mengalami gangguan saraf juga dapat menarik diri dari keluarga, teman, dan rekan kerja. Tanda-tanda penarikan tersebut meliputi:

  • Menghindari fungsi dan keterlibatan sosial
  • Makan dan tidur tidak nyenyak
  • Tidak bisa menjaga kebersihan
  • Izin sakit saat bekerja selama berhari-hari atau tidak muncul untuk bekerja sama sekali
  • Mengisolasi diri di rumah.
Baca Juga :   BNPB : Imbau Masyarakat Agar Selalu Waspada, Karena Masih Ada Potensi Bencana Alam

Penyebab Mental Breakdown

Apa pun yang menyebabkan lebih banyak stres daripada yang dapat ditangani tubuh dapat menyebabkan mental breakdown atau memicu gejala kondisi kesehatan mental yang mendasarinya. Melansir dari medicalnewstoday.com, beberapa penyebab umum dan faktor risiko dari kondisi mental breakdown meliputi:

  • konflik di tempat kerja dan di rumah
  • perasaan duka
  • kehilangan rumah, sumber pendapatan, atau hubungan romantis
  • pekerjaan yang melibatkan situasi stres tinggi
  • riwayat keluarga dengan kondisi kesehatan mental
  • kondisi medis yang parah atau kronis atau cedera
  • peristiwa dan pengalaman traumatis
  • hubungan romantis yang kasar
  • mengidentifikasi diri sebagai LGBTQIA dan tidak mendapatkan dukungan keluarga atau komunitas
  • trauma berbasis ras
  • stres terus-menerus, seperti dalam perang

Salah satu masalah kesehatan mental yang mungkin terlibat adalah gangguan stres akut (ASD). ASD merupakan reaksi stres yang terjadi 3 hari hingga 1 bulan setelah peristiwa traumatis. Jika berlangsung lebih dari 1 bulan, dokter dapat mendiagnosis PTSD.

Cara Mengatasi Mental Breakdown

Penting untuk dicatat bahwa mental breakdown bisa menjadi tanda kondisi gangguan pada kesehatan mental, hingga penting bagi penderita untuk mencari bimbingan profesional. Berikut beberapa rekomendasi cara mengatasi mental breakdown yang bisa dilakukan, melansir dari adventisthealth.org:

  • Carilah bantuan profesional kesehatan mental seperti psikolog, psikiater, pekerja sosial klinis berlisensi atau terapis pernikahan dan keluarga berlisensi. Temukan seorang profesional untuk diajak bicara jika Anda merasa gejala yang Anda alami tidak terkendali, atau memengaruhi hubungan, pekerjaan, atau sekolah.
  • Tidur teratur setiap malam. Para ahli merekomendasikan untuk tidur setidaknya delapan jam, dan tidak kurang dari enam jam. Berusahalah untuk mengembangkan jadwal tidur yang memiliki waktu tidur dan waktu bangun yang ditargetkan. Persiapkan waktu tidur Anda setidaknya 30 menit sebelum tidur. Temukan rutinitas persiapan sebelum tidur yang mencakup menyikat gigi, mengganti piyama, dan mematikan semua perangkat elektronik.
  • Berolahraga setidaknya tiga kali seminggu selama setidaknya 30 menit setiap kali.
  • Hindari zat-zat yang dapat meningkatkan stres pada tubuh Anda seperti kafein, alkohol atau obat-obatan.
  • Gabungkan teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, dan imajinasi terbimbing. Ada banyak video dan sumber online tentang latihan terpandu yang akan membantu mengarahkan Anda pada praktik metode ini.
  • Pertimbangkan metode penyembuhan alternatif seperti yoga, reiki, terapi somatik, akupunktur atau pijat.
  • Bicaralah dengan keluarga, teman, atau siapa pun yang Anda percayai. Biarkan mereka tahu bagaimana perasaan Anda.
    Jika Anda religius atau spiritual, terlibatlah dalam acara komunitas keagamaan atau spiritual Anda. Bicaralah dengan para pemimpin di komunitas spiritual tersebut.
    Di saat-saat stres yang hebat, ingatlah bahwa Anda tidak sendirian. Banyak orang ingin membantu jika Anda merasa kewalahan. Beri diri Anda hadiah berupa keberanian untuk berbicara dengan seseorang yang Anda percayai dan membiarkan seseorang tersebut membantu Anda.
Baca Juga :   Pembelaan Pemkab Lamongan yang Dianggap Tak Becus Tangani Banjir

Artikel ini telah tayang di :
https://www.merdeka.com/jatim/mengenal-mental-breakdown-dan-cara-mengatasinya-perhatikan-pula-gejalanya-kln.html?page=all

Bagikan :
error: Content is protected !!