Menilik Kesepian dan Keterasingan di Dunia Modern Melalui Buku ‘The Lonely Century’ Karya Noreena Hertz

realitaindonesia.com – Awalnya, ketika membaca berita bahwa di Jepang ada Kementerian Kesepian, berita itu bisa dianggap hanya lelucon belaka. Namun, setelah membaca buku The Lonely Century karangan Noreena Hertz ini, akhirnya sadar bahwa kesepian memang merupakan masalah besar yang perlu ditangani dengan serius. Bahkan, saat ini kesepian dan segala dampak negatifnya menjadi semakin parah dengan munculnya pandemi Covid-19.

Berbagai aktivitas yang terkait dengan menjaga jarak, karantina, ataupun isolasi mandiri semakin sering dilakukan banyak orang. Itu semua menambah perasaan tertekan karena kesepian yang dialami semakin mencekam. Bagi sebagian orang, ketakutan akan kesepian, merasa ditinggalkan, atau merasa tidak diacuhkan bisa lebih menakutkan daripada terinfeksi virus itu sendiri.

Infeksi virus bisa sembuh dalam beberapa minggu, tetapi depresi karena kesepian bisa membawa dampak yang lebih lama dan lebih sulit terapinya.

Bahkan, kesepian yang relatif pendek dapat menyebabkan dampak yang buruk dalam jangka panjang. Kesepian bisa mendatangkan berbagai penyakit. Serangkaian penelitian menunjukkan, kesepian berdampak buruk bagi kesehatan kita, lebih buruk daripada tidak berolahraga, lebih buruk daripada kecanduan alkohol, bahkan dua kali lebih buruk daripada mengalami masalah kegemukan. Secara statistik, dampak buruk kesepian setara dengan konsumsi rokok 15 batang dalam sehari. Semakin lama kita kesepian, semakin besar pula dampak negatif yang akan dirasakan.

Saat ini kita berada di tengah masa krisis kesepian global dan tidak ada dari kita, di mana pun berada, dapat kebal dari kondisi kesepian yang semakin mencekam ini. Pada dasarnya, sama dengan jenis primata yang lain, manusia adalah makhluk sosial. Salah satu keunggulan manusia, sehingga dapat menguasai dunia saat ini, dapat dilacak dari kemampuannya untuk melakukan banyak hal bersama manusia lainnya.

Secara naluriah manusia selalu ingin terhubung dengan pihak lain dan ingin bersama orang lain, baik disadari maupun tidak.

Covid-19 menyebabkan hubungan antarwarga lebih berjarak. Sentuhan dan interaksi antarmanusia dibatasi demi mencegah penularan agar tidak menjadi-jadi. Rendahnya interaksi langsung antarmanusia ini menyebabkan sulit bagi masing-masing pihak untuk memahami apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan dan keinginan pihak lainnya. Masing-masing pihak bergerak sendiri-sendiri.

Baca Juga :   Pemerintah diskriminatif dalam menghadapi kerumunan massa Rizieq Shihab.

Empati yang menjadi dasar keutuhan suatu masyarakat semakin menipis. Ini memperberat beban mental yang harus ditanggung setiap individu dalam menghadapi segala persoalan.

Sebenarnya, bahkan jauh sebelum pandemi Covid-19 terjadi, fenomena tidak terhubung secara fisik dengan orang lain telah menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita. Kita sering mendengar, smartphone yang kita pakai pada dasarnya telah menjauhkan kita dari yang dekat, dan mendekatkan kita dengan yang jauh. Kita menjadi semakin terasing, di lingkungan keluarga, tetangga, ataupun tempat kerja kita. Itu semua terjadi justru akibat semakin seringnya menggunakan berbagai teknologi komunikasi dalam aktivitas keseharian. Semuanya bisa dilakukan dengan otomatis.

Semakin lama, mesin akan lebih banyak berperan dalam berbagai aktivitas atau interaksi yang kita lakukan daripada manusia itu sendiri. Hubungan fisik antarmanusia semakin jarang dilakukan. Teknologi ini telah mengurangi kemampuan dan keterampilan kita dalam memahami dan berhubungan dengan orang lain secara fisik. Perhatian kita telah teralih ke segala apa yang ada di smartphone, sehingga sering kita menjadi kurang peduli dengan apa yang terjadi dan dengan keberadaan orang-orang yang berada di sekeliling kita secara fisik.

Kita lebih akrab dengan teknologi dan berbagai media yang kita gunakan, sehingga keterampilan berhubungan secara tatap muka berkurang. Bahkan, untuk dapat mengungkapkan ekspresi diri sendiri atau memahami ekspresi orang lain, kita semakin mengalami kesulitan. Suara orang-orang di
sekitar kita semakin hilang seiring dengan sisi kemanusiaan kita yang tergerus teknologi.

Apa yang ditampilkan di dalam teknologi semacam media sosial terkadang penuh kepalsuan, tidak sama dengan yang sebenarnya terjadi. Media sosial semakin membuat kita kesepian. Tidak hanya karena semakin banyak waktu yang kita habiskan di depan perangkat itu yang mengakibatkan justru kita kurang peduli dengan orang yang berada di sekeliling kita, tetapi juga karena hal itu telah membuat masyarakat kita secara keseluruhan menjadi lebih kejam dan kurang begitu menghargai arti kehidupan di sekelilingnya.

Baca Juga :   Pembangunan Smelter Freeport di Tengah Pandemi Corona, Sekarang Bagaimana?

Kesepian ini amat mengganggu dan menurunkan produktivitas karyawan di tempat bisnis. Kecenderungan meningkatnya pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah (remote work) di masa depan juga meningkatkan rasa kesepian. Hubungan antarkaryawan akan lebih banyak dilakukan lewat surat elektronik (e-mail) atau teks. Ini menjadikan hubungan personal dan kontak fisik antarkaryawan semakin berkurang.

Padahal, sering terjadi, tim kerja yang paling produktif adalah tim yang mampu berinteraksi secara akrab di luar pertemuan resmi. Pertemuan tatap muka yang penuh dengan tawa canda sering menghasilkan banyak ide kreatif, memperkuat solidaritas tim, dan meningkatkan produktivitas kerja. Memandang karyawan sebagai seorang manusia yang perlu diperhatikan dan diakui keberadaannya akan meningkatkan produktivitas kerja.

Dalam masa sekarang, dirasakan bahwa kerja yang dilakukan sering tidak mengenal tempat dan waktu. Waktu kerja dan waktu luang seakan tiada pemisahan lagi. Di akhir minggu, di waktu malam, bahkan di saat liburan pun kita selalu terhubung dengan smartphone kita yang penuh dengan tuntutan pekerjaan yang seolah-olah tiada akhir.

Teknologi robot, dengan segala bentuknya yang semakin canggih, semakin menghilangkan sisi kemanusiaan kita. Kita akan lebih sering berinteraksi dengan berbagai perangkat mesin ini, baik di rumah maupun di tempat kerja, daripada berinteraksi secara langsung dengan manusia.

Robot akan semakin menyerupai manusia yang menyebabkan kita semakin lebih dekat dengan robot dan semakin jauh dengan sesama manusia.

Banyak juga perangkat yang bisa mengawasi kita di mana pun berada. Kehidupan kita terpantau oleh siapa pun. Kita harus selalu bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan mesin daripada yang sebenarnya diinginkan manusia. Kehidupan manusia selalu dimonitor dan direkam oleh berbagai perangkat mesin yang ada di sekitar kita.

Dalam kondisi yang penuh dengan pengawasan ini, kita akan cenderung menarik diri dari lingkungan kerja agar tidak terawasi dan mengisolasi diri.

Secara umum, di masa depan kehidupan yang dijalani tidaklah jauh dari tiga hal ini: kehidupan kita dalam banyak hal akan semakin diawasi, teknologi digital akan semakin merasuki segala kehidupan kita, dan mesin akan semakin banyak mengambil alih manusia dalam membuat keputusan. Manusia semakin tidak otonom lagi. Ini menjadikan manusia semakin terasing dengan manusia lain dan meningkatkan rasa kesepian.

Baca Juga :   Tiap Tahun Subsidi Pupuk Rp 33 T, Pak Jokowi : 'Return-nya Apa? Ini Ada yang Salah' Katanya

Tanpa disadari, sebenarnya kita telah membangun dunia yang kesepian (lonely word). Sekarang merupakan saat yang tepat untuk memulai kehidupan baru dengan mengubah cara pandang dan kewajiban kita terhadap pihak lain, serta membangun masyarakat yang terbuka. Justru di alam globalisasi ini, kita perlu akar yang kuat tertanam dalam lingkungan kita. Perlu hubungan yang lebih kuat dengan alam lingkungan sekitar agar tidak jatuh diterpa badai globalisasi yang terus melanda.

Masalah kesepian sudah sedemikan besar dan kompleks, tidak bisa hanya ditangani psikolog atau psikiater belaka. Solusi harus diangkat lebih tinggi lagi karena menyangkut aspek politik, ekonomi, dan sosial. Kesepian bukanlah sekadar perasaan pribadi seseorang. Ini telah menjadi masalah kolektif yang berpengaruh terhadap kehidupan individu dan masyarakat secara keseluruhan. Telah menjadi salah satu sebab kematian jutaan orang setiap tahunnya, menyebabkan kerugian ekonomi dan produktivitas kerja yang berharga miliaran dolar, serta mengancam perasaan toleran dan demokrasi dalam masyarakat.

Pemerintah, pelaku bisnis, dan para individu, semuanya memiliki peran tersendiri untuk dimainkan. Dimulai dengan memastikan bahwa semua orang bisa dilihat dan didengarkan. Mereka harus dilihat, diperhatikan, dan dipahami layaknya manusia, bukan sekadar mesin atau alat produksi semata.

Karena itu, langkah yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah kesepian ini di antaranya memastikan bahwa kelompok yang saat ini berada di pinggiran tidak semakin terpinggirkan, memastikan bahwa sumber daya yang ada dapat didistribusikan secara merata kepada para pihak yang membutuhkan, memastikan bahwa orang tidak hanya peduli pada orang yang sama dengan dirinya secara kesejarahan atau budaya, tetapi juga turut peduli pada berbagai pihak lain yang berbeda dengan dirinya.

 

Oleh : Eko Widodo, Staf Pengajar Magister Administrasi Bisnis Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta

***

Artikel ini telah tayang di :
https://www.republika.co.id/berita/qvq7d4197702897521000/kesepian-yang-semakin-membahayakan

Bagikan :

Next Post

WHO Tegaskan Indonesia Masuk Kategori A1 High Risk Penyebaran Covid-19? Itu HOAX!

Sen Jul 5 , 2021
realitaindonesia.com — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan informasi mengenai status Covid-19 di Indonesia yang masuk kategori A1 High Risk dari Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) yang beredar di media sosial dan aplikasi perpesanan tidak benar. WHO tidak pernah membuat klasifikasi untuk suatu negara. “Kami sudah memverifikasi informasi tersebut kepada WHO dan […]

Breaking News

error: Content is protected !!