12 Juni 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

Mahasiswa ITS Membuat Inovasi Penggunaan Thorium Sebagai Bahan Bakar PLTN

Realita Indonesia, Surabaya – Cadangan uranium sebagai bahan bakar di Indonesia relatif kecil, sehingga tidak bisa menggunakan sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) seperti beberapa negara di dunia. Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam Tim Inventhor membuat inovasi dengan memanfaatkan Thorium. Thorium sebagai bahan bakar alternatif sumber energi terbaru.

Bermula dari krisis energi bersih terbarukan (Nol karbon) dan perubahan iklim dunia yang ditandai dengan Global Temperature Rise. Presiden Jokowi pun pernah menyampaikan jika akan turut ambil bagian mengurangi jumlah emisi gas karbon di Indonesia, Caranya dengan mengembangkan sektor energi baru dan terbarukan (EBT).

Ketua Tim Inventhor, Michael Adrian Subagio mengatakan, ia dan kedua anggotanya fokus pada pemanfaatan sumber energi yang bersih, terbarukan, serta lebih aman untuk bahan bakar PLTN dibandingkan dengan energi dari batubara, gas alam, dan biomassa. Berdasarkan hasil analisis, Thorium dapat menggantikan Uranium. Efisiensi konversinya menjadi energi listrik sendiri dapat mencapai 50 persen, dibandingkan Uranium yang hanya 30 persen.

Baca Juga :   Pihak Kemensos Beri Bantuan Sosial Untuk Korban Banjir Bekasi

“Nilai tersebut merupakan yang terbesar dibandingkan pembangkit listrik lainnya, sehingga menghasilkan limbah padat radioaktif yang lebih sedikit. Reaktor PLTN memanfaatkan reaksi fisi dari senyawa radioaktif yang menghasilkan steam sebagai penggerak turbin untuk produksi listrik. Thorium lebih aman karena reaksi fisinya tidak membentuk senyawa yang berpotensi disalahgunakan untuk bom nuklir,” kata Michael, Selasa (12/1/2021)

Penggunaannya sendiri berkenaan dengan melimpahnya cadangan Thorium di Indonesia. Hasil eksplorasi yang dilakukan Pusat Sumber Daya Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan adanya cadangan Monasit (Mineral yang mengandung Thorium) terbesar di daerah Kepulauan Bangka Belitung. Kadar Thorium sangat besar, berkisar antara 62,9 – 85,7 ppm per gram.

Baca Juga :   Polri Sebut Virtual Police Bakal Usut Konten Di WhatsApp Jika Ada Laporan

“Melihat potensi tersebut, kami mengusulkan pendirian PLTN di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan memperhatikan beberapa aspek. Berkaitan dengan aspek geologis, daerah tersebut relatif aman dari gempa dan tsunami. Selain itu, terdapat pasokan air yang cukup untuk sistem utilitas PLTN karena dekat dengan perairan Natuna dan laut Jawa. Hal ini berkaitan dengan on-line processing Monasit menjadi Thorium Oksida,” jelasnya.

Atas inovasinya, Michael bersama kedua anggotanya, Kenny Santoso dan Brian Setiawan berhasil menyabet medali emas pada ajang National Applied Science Project Olympiad (NASPO) dalam bidang Renewable Energy, beberapa waktu lalu. Berkat prestasi yang diraih, Tim Inventhor dibiayai penuh untuk berpartisipasi di salah satu gelaran World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2021 yang diadakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA).

Baca Juga :   Hingga Akhir Tahun Stok Beras Dipastikan Aman Dan Tersedia Oleh Kementan, Karena Fenomena La Nina Kian Mengancam

Para juri pun menginginkan PLTN Thorium ini dapat segera berjalan di Indonesia. Mengingat belum ada satupun PLTN yang menggunakan Thorium di dunia, dan PLTN di Indonesia sendiri masih belum beroperasi karena masih dalam tahap eksplorasi bahan.

“Mungkin bila perlu dan memungkinkan, kami dapat berkonsultasi langsung dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengenai kondisi dan potensi nuklir Thorium di Indonesia di masa depan,” pungkasnya.

Sumber: detik.com

Editor: Realita Indonesia

Bagikan :
error: Content is protected !!