13 Juni 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

Luhut Harap Omnibus Law Cipta Kerja Kelar Minggu Depan, Di Depan Investor Jepang

Melansir situs KPK pada Rabu 22 Juli 2020, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan terakhir kali melaporkan harta kekayaannya pada 1 Mei 2020. Dilihat dari data LHKPN, Luhut memiliki harta kekayaaan mencapai Rp 677.4 miliar.( foto Dok.tempo.co )

Realita Indonesia – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan melakukan pertemuan dengan sejumlah investor dari Jepang. Dalam pertemuan ini, Luhut mengatakan Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja tinggal akan segera terbit.

“Kami harap minggu depan, ini bisa pass di parlemen, itu sedang dikerjakan, tinggal sentuhan-sentuhan terakhir saja,” kata Luhut dalam Indonesia-Japan Virtual Investment Forum pada Selasa, 25 Agustus 2020.

Pertemuan ini dihadiri oleh sejumlah pebisnis dari negeri Sakura. Di antaranya seperti Ken Kobayashi, Chairman of the Board, Mitsubishi Corporation. Lalu ada juga Fumiya Kokubu, Chairman of Board, Marubeni.

Dalam catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jepang adalah salah satu sumber investasi terbesar bagi Indonesia. Tahun 2019, tak kurang investasi senilai US$ 4,3 miliar masuk ke Indonesia dari Jepang, nomor tiga setelah Singapura dan Cina.

Baca Juga :   Surat Dari AHY Tak Dibalas, Tetapi Moeldoko Ditegur Secara Internal

Adapun RUU Omnibus Law Cipta Kerja adalah usulan pemerintah, yang sudah diserahkan ke DPR sejak 12 Februari 2020. Saat ini, proses pembahasan sudah berjalan di DPR. Selain RUU Cipta Kerja, ada juga RUU Omnibus Law Perpajakan.

Dalam forum ini, Luhut mengatakan perizinan investasi akan disederhanakan lewat Omnibus Law Cipta kerja, khususnya di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Selain itu, Luhut juga meyakini Omnibus Law ini akan membuat indeks kemudahan berbisnis atau Ease of Doing Business (EoDB) di Indonesia akan semakin membaik.

Selama pemerintahan Presiden Joko Widodo, kata dia, peringkat EoDB Indonesia sudah naik, dari posisi 120 menjadi 73 di antara negara-negara di dunia. “Kami ingin sampai 50, dengan Omnibus Law kami yakin itu akan tercapai,” ujarnya.

Baca Juga :   Jumlah Karyawan Menyusut 24%, Penumpang Emirates Turun 95%

Tapi di saat yang bersamaan, gelombang penolakan terhadap Omnibus Law Cipta Kerja di tanah air terus berlanjut. Salah satu yang paling lantang menolak adalah kalangan buruh dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Hari ini, mereka kembali berunjuk rasa di depan Gedung DPR.

Sejak Omnibus Law Cipta Kerja diserahkan ke DPR pada Februari 2020, kelompok buruh sudah menyatakan penolakan. KSPI misalnya, menyebut ada 9 alasan penolakan: mulai dari hilangnya upah minimun, berkurangnya pesangon, sampai waktu kerja yang eksploitatif.

Adapun dalam unjuk rasa hari ini, Presdien KSPI Siad Iqbal menyampaikan tuntutan agar klaster ketenagakerjaan dikeluarkan dari Omnibus Law Cipta Kerja. Saat ini, klaster tersebut baru sebatas ditunda pembahasannya, belum resmi dicabut.

Baca Juga :   Sebelum MotoGP, Perpanjangan Landasan Pacu Bandara Lombok Ditarget Rampung

Menurut Said Iqbl, KSPI setuju investasi harus lebh banyak masuk ke Indonesia. Ia pun sepakat hambatan yang ada harus ditiadakan dan dipermudah. “Tapi secara bersamaan, perlindungan bagi buruh yang paling minimal dalam UU Ketenagakeraajn, tidak boleh dikurangi atau diubah,” kata dia.

Editor : Realita Indonesia
Sumber : tempo.co

Bagikan :
error: Content is protected !!