13 Juni 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

Kontroversi Tambang Emas Sangihe, Warga Adat Menolak Keras

( Foto: Save Sangihe Island)

realitaindonesia.com – Pemerintah pusat menemukan lumbung emas baru di Pulau Sangihe pada Juni 2021. Pulau Sangihe sendiri merupakan pulau kecil terluar di utara Indonesia yang berada di kawasan Sulawesi Utara.

Karena penemuan lumbung emas tersebut, pemerintah melalui Kementerian ESDM mengeluarkan izin SK Produksi bernomor 163.K/MB.04/DJB/2021.

Dengan adanya izin tersebut, sekitar 42.000 hektar dari Pulau Sangihe boleh dijadikan lokasi pertambangan emas oleh PT. Tambang Mas Sangihe (TMS).

Menanggapi adanya kebijakan tersebut, Warga Adat Pulau Sangihe tidak diam saja.

Mereka langsung bersikeras untuk menentang proses pertambangan yang akan dilakukan PT TMS tersebut melalui petisi yang dilakukan secara online.

Pada awal Juni 2021, muncul sebuah petisi di situs Change.Org dari warga adat Pulau Sangihe yang melakukan penolakan pertambangan emas.

Baca Juga :   Syahbandar Diminta Untuk Siaga, Perihal Cuaca Ekstrem Di Perairan RI Untuk Sepekan Ke Depan

Alasan dari ditolaknya pertambangan emas pemerintah di Pulau Sangihe tersebut ada dua.

Pertama Pulau Sangihe merupakan pulau dengan sumber daya alam (SDA) yang terhitung indah.

“Pulau-pulau kecil di sekeliling pulau Sangihe juga demikian indah, dengan pasir putih halus dan pemandangan bawah laut yang menawan. Banyak orang telah datang menikmati keindahan pulau-pulau kami,” kata petisi tersebut dalam penjelasannya.

Bahkan Pulau Sangihe di dalam petisi tersebut dijelaskan juga menjadi markas dari aneka satwa dan burung-burung endemic yang kini menjadi objek penelitian akademik nasional maupun internasional.

“Semua itu menjadi kekayaan besar yang dianugerahkan Tuhan yang Maha Esa bagi kami,” kata petisi tersebut lagi

Baca Juga :   Menteri Trenggono : 'Impor garam sudah diputuskan melalui rapat Menko', Berapa Ya Jumlahnya?

Alasan kedua adalah kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan aturan.

Dijelaskan bahwa PT TMS memiliki izin konsesi (pertambangan) hingga 42.000 hektar.

Padahal menurut UU Nomor 1 Tahun 2014, pulau-pulau dengan luas daratan kurang dari 2000 Km2 dikategorikan sebagai pulau kecil dan tidak boleh ditambang.

“Sedangkan pulau kami hanya berukuran 736 Km2. Namun entah apa yang ada di benak para pejabat itu sehingga memberi ijin pada perusahaan asing untuk membongkar daratan pulau ini,” jelas petisi tersebut kembali.

Karena hal ini, petisi penolakan pertambangan emas di Pulau Sangihe mendapatkan banyak dukungan. Hingga Kamis, 10 Juni 2021 tercatat sekitar 40.174 orang sudah menandatangani petisi tersebut.

Baca Juga :   Tragedi Sriwijaya Air : Bagaimana Jaminan Keselamatan Penerbangan ke Depan? Apakah Aman??

Target petisi tersebut secara total dibutuhkan hingga 50.000 tanda tangan.

***

Artikel ini telah tayang di :
https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-012032729/lumbung-emas-ditemukan-di-
pulau-sangihe-muncul-petisi-warga-tolak-adanya-pertambangan

Bagikan :
error: Content is protected !!