Ketersediaan Vaksin dan Gelombang II Berpengaruh Pada Pemulihan Ekonomi, Kata Sri Mulyani

Realita Indonesia – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan pemerintah harus menjaga keseimbangan antara kesehatan dan ekonomi di masa pandemi karena keduanya berimplikasi terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Ini merupakan sesuatu yang harus kita jaga keseimbangan antara kesehatan dengan menjaga ekonomi dan mengembalikan kesejahteraan rakyat,” katanya dalam Raker bersama DPR RI di Jakarta, Senin, 5 Oktober 2020.

Sri Mulyani menyatakan menyeimbangkan aspek ekonomi dan kesehatan memang merupakan tugas yang sangat sulit namun dapat dicapai jika seluruh elemen bangsa memiliki kepedulian untuk bekerja sama.

“Masalah Covid-19 tidak merupakan masalah keuangan tapi masalah kesehatan. Ini adalah masalah yang berhubungan dengan kepedulian kepada kita semua,” ujarnya.

Ia menuturkan keseimbangan harus dilakukan karena upaya pemerintah dalam memulihkan ekonomi yang berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat akan sangat bergantung pada penanganan pandemi Covid-19.

Baca Juga :   Para Guru Mulai Menjalani Vaksinasi, Presiden Berharap Ajaran Tahun 2021 Bisa Berjalan Lancar

Ia menjelaskan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pemulihan ekonomi seperti potensi terjadinya second wave, ketersediaan vaksin, dan kegiatan vaksinasi sehingga penanganan di sektor kesehatan juga harus menjadi yang utama.

Sementara itu, menurutnya, untuk sektor ekonomi sudah mulai terlihat adanya tren pembalikan pada kuartal III setelah pada kuartal-kuartal sebelumnya terjadi tekanan cukup dalam.

Ia memprediksikan kuartal III masih akan berada di zona negatif namun lebih baik jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal II yang terkontraksi hingga 5,32 persen.

“Pertumbuhan kuartal I di 3 persen, kuartal II minus 5,3 persen, dan kuartal III kita prediksi mungkin masih akan negatif meskipun jauh lebih baik dari pada kuartal II,” katanya.

Baca Juga :   Untuk Penyelenggaraan Umrah, Kemenag Susun Pedoman Protokol Kesehatan

Sri Mulyani menjelaskan pemulihan baik di bidang ekonomi maupun kesehatan membutuhkan stimulus fiskal yang sangat besar hingga menyebabkan defisit APBN tahun ini diperkirakan sebesar 6,34 persen.

Stimulus fiskal tersebut juga dilakukan oleh berbagai negara termasuk Inggris, Spanyol, Perancis, dan Jerman yang mencapai 10 persen dari PDB sehingga membuat kontraksi ekonomi mencapai dua digit.

“Dalam konteks ini kita akan mengatakan bahwa seluruh dunia yang mengalami shock yang luar biasa kemudian mereka menggunakan fiskal sebagai countercyclical dan itu menyebabkan defisit yang cukup besar,” katanya.

Editor : Realita Indonesia

Sumber : Tempo.co

Bagikan :

Next Post

Harga Obat Covid-19 Covifor Diturunkan Kalbe Farma, Jadi Rp.1,5 Juta

Sel Okt 6 , 2020
Realita Indonesia – Emiten farmasi PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) bersama dengan PT Amarox Pharma Global (Amarox) mengumumkan penyesuaian harga produk Covifor, merek dagang Remdesivir oleh Hetero Healthcare. Harga produk Covifor yang diproduksi oleh Hetero India, diimpor oleh Amarox dan dipasarkan serta didistribusikan oleh Kalbe ini sebelumnya diumumkan Rp 3 juta per vial (botol […]

Breaking News

error: Content is protected !!