Kenali Kriteria Kesembuhan Pasien Covid-19, Bukan Ditentukan Oleh Hasil Negatif Swab PCR!

realitaindonesia.com – Seorang pasien COVID-19 dapat dinyatakan sembuh tidak melulu dengan melihat hasil swab test PCR yang negatif. Lagi pula swab test ulang tidak diperlukan selama itu bergejala ringan atau orang tanpa gejala (OTG).

Begitu kata Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Mayapada Kuningan, Jaka Pradipta, saat melakukan siaran langsung di Instagram bersama Dokter Darrel Fernando dengan topik ‘Kapan Saya Dinyatakan Sembuh dari COVID-19?’ pada Februari 2021.

Jaka, mengatakan, untuk penyakit apa pun, tidak terkecuali COVID-19, pasien dikatakan sembuh jika yang semula ada gejala menjadi tidak bergejala, yang tadinya tidak bisa melakukan aktivitas menjadi bisa beraktivitas, dan yang tadinya tidak terkontrol menjadi terkontrol.

“COVID-19 sebenarnya seperti itu. Cuma perbedannya adalah, sembuhnya ditambahkan dengan dia melakukan isolasi. Kenapa? Karena penyakitnya bisa menular,” kata Jaka.

Baca Juga :   360 DPC Dan DPD Partai Demokrat Dari AHY Bakal Direbut Moeldoko, Kata Andi Mallarangeng

Jaka lalu bercerita, di awal-awal pandemi COVID-19 menerjang Indonesia, pasien di Wisma Atlet bisa dirawat sampai dua bulan karena baru bisa dinyatakan sembuh jika swab test PCR negatif.

Namun, pada Mei 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan rekomendasi bahwa swab test PCR ulang tidak diperlukan, baik pada orang bergejala ringan maupun tidak bergejala.

Rekomendasi WHO untuk Kriteria Pasien Sembuh dari COVID-19

Menurut Jaka, rekomendasi tersebut dikeluarkan WHO karena swab test PCR pada dasarnya untuk diagnostik, bukan sebagai evaluasi.

“Karena swab test itu mendeteksi partikel virus yang sangat kecil. Jadi, yang sudah mati pun terdeteksi. Istilahnya, tangan, kaki, bangkainya ketangkap gitu,” kata Jaka.

Baca Juga :   Delta Air Lines bakal mengosongkan bangku hingga Maret 2020.

“Sehingga WHO bilang ‘Sudahlah, enggak usah di-swab PCR ulang kalau pasien gejala ringan’, kecuali gejala berat karena inflamasinya banyak, radangnya hebat, penularannya sangat hebat. Jadi, yang gejala ringan apalagi enggak ada gejala, swab PCR tidak dianjurkan dan itu sudah diaplikasikan oleh WHO, CDC, Kemenkes, dan Dinkes,” Jaka menambahkan.

Kriteria Sembuh dari COVID-19
Jaka menjelaskan bahwa seorang pasien COVID-19 dinyatakan sembuh jika memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Gejalanya sudah tidak ada

“Kita batasin tiga hari,” kata Jaka.

“Gejala yang tidak ada ini bukannya hilang banget, tapi yang tadinya ada demam, menjadi tidak demam. Kedua, yang tadinya ada pusing, menjadi tidak pusing tanpa obat,” Jaka melanjutkan.

Baca Juga :   Mengenal Myanmar, Satu-Satunya Negara ASEAN Yang Beriklim Subtropis

Apabila ada batuk, yang tadinya batuknya hebat menjadi berkurang, itu bisa dinyatakan sembuh. Bahkan, yang tadinya ada anosmia hebat lalu berkurang juga bisa dibilang sembuh.

“Jadi ada gradasinya,” kata Jaka.

2. Menyelesaikan fase isolasi

Fase isolasi, kata Jaka, minimal 10 hari kalau tidak ada gejala. Misal ada gejala, tambah tiga hari bebas gejala, menjadi 13 hari.

Misal dua minggu masih ada demam, tambah tiga hari lagi menjadi 17 hari.

“Jadi, kita juga jangan terlalu cuek,” katanya.

“Saran saya, kesembuhan harus dikonsultasikan ke dokter jangan asal sembuh-sembuh saja,” ujarnya.

 

Artikel ini telah tayang di :
https://www.liputan6.com/health/read/4593815/catat-kriteria-sembuh-dari-covid-19-bukan-swab-pcr-yang-negatif?HouseAds&campaign=PandemiCovid19_News_STS2

Bagikan :

Next Post

Sosialisasikan Prokes Penyelenggaraan Salat Idul Adha dan Kurban, Menteri Agama Temui Kiai

Sel Jun 29 , 2021
realitaindonesia.com, Jakarta – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan edaran No SE 15 tahun 2021 tentang Penerapan Protokol Kesehatan dalam Penyelenggaraan Salat Idul Adha dan Pelaksanaan Kurban 1442 H/2021 M. Edaran ini antara lain mengatur larangan kegiatan takbir keliling hingga Salat Idul Adha di lapangan terbuka atau masjid pada […]

Breaking News

error: Content is protected !!