Ini Strategi Kemenperin, Target Lipat Gandakan Ekspor UMKM

Pada Maret 2019 lalu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang melaporkan harta kekayaannya kepada KPK. Berdasarkan laporan itu total kekayaan Agus sebesar Rp 220 miliar.( Foto Dok.tempo.co )

Realita Indonesia – Kontribusi ekspor produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih relatif kecil, yaitu sekitar 14 persen. Untuk itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan volume ekspor dari produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) naik dua kali lipat dari 14 persen menjadi 28 persen pada 2024 mendatang.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) dan Aneka Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan salah satu strategi Kemenperin adalah pemetaan kemampuan atau link and match antara industri kecil menengah dengan industri besar. Menurut Gati, pelaku IKM perlu memasok industri besar karena mereka harus masuk dalam rantai pasok global.

Pelaku IKM yang sudah bisa mensuplai industri besar, kata Gati, akan mudah masuk pasar ekspor. “Tujuan link and match ini supaya pelaku IKM mengetahui syarat produk untuk menjadi pemasok industri besar. Industri besar akan memberikan penilaian, baik bahan baku maupun proses produksi,” tutur Gati kepada Tempo, Selasa 25 Agustus 2020.

Untuk mendukung tujuan tersebut, Gati menuturkan pemerintah bekerja sama dengan akademisi, perguruan tinggi, atau pun sektor pertanian untuk menggodok bahan bakunya. Dalam produksi ada dua faktor, yaitu sumber daya manusia dan mesin.

Baca Juga :   Tragedi Sriwijaya Air : Penyelam Temukan Seragam Pramugari Sriwijaya Air Hingga Gaun Pengantin

Selain pelatihan, Gati mengatakan pelaku IKM akan didampingi. Kemudian, lewat program restrukturisasi, pemerintah juga menyiapkan program restrukturisasi mesin dan peralatan produksi dengan memberikan potongan harga 30 persen. “Sisa 70 persen dari pembeliannya akan didorong lewat perbankan atau Bank Milik Negara (Himbara) supaya KUR (kredit usaha rakyat) didorong ke sana,” kata Gati.

Gati menuturkan pemerintah juga bekerja sama dengan atase perdagangan atau Indonesian Trade and Promotion Center (ITPC) untuk memetakan kondisi pasar ekspor. Selain itu, Gati menuturkan Kementerian juga gencar mencari inovasi produk yang menggunakan bahan baku lokal, misalnya lewat Indonesia Food Innovation (IFI), Indonesia Fashion & Craft Awards, atau pun Creative Business Incubator (CBI).

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Kasan Muhri mengatakan Kementerian sedang mengkaji produk yang memiliki kekuatan pasar di negara akreditasi para Perwakilan Dagang. Kajian itu akan dikategorikan dalam tiga kategori, yaitu excellent products, emerging products, dan losing products. “Nantinya, pada setiap kategori akan diterapkan strategi yang berbeda untuk pengembangan ekspornya,” ujar Kasan.

Baca Juga :   Polisi Tembak Pelaku yang Menjambret Anak Pejabat Tinggi Polda Riau

Kasan menjelaskan untuk excellent products akan kami dorong untuk didiversifikasi karena telah memiliki kekuatan pasar yang besar. Untuk emerging dan losing products, Kasan mengatakan peran perwakilan dagang diperlukan untuk mempelajari keunggulan produk dari negara pesaing yang belum dimiliki oleh produk Indonesia.

“Untuk saat ini, berdasarkan nilai ekspornya, terdapat beberapa produk yang potensial untuk didorong ekspornya, di antaranya produk kayu, furnitur, produk perikanan olahan, produk olahan rempah-rempah, kopi, produk-produk florikultur, dan berbagai produk lainnya,” ujar Kasan.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan untuk mendorong ekspor, UMKM memerlukan peran pedagang eksportir sebagai pemasaran dan konsolidasi logistik.

Selain itu, Benny mengatakan pelaku UMKM masih melakukan pembayaran dari pedagang secara tunai, sementara pedagang mengekspor itu menggunakan Letter of Credit baik itu yang jatuh temponya atas unjuk (sight) atau pun yang jatuh temponya berjangka sesuai dengan tenornya (unsane).

“Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) harus mendukung dengan instrumen pembiayaan non-bank. Yang dijadikan collateral (jaminan) adalah tagihan hasil ekspor dan dijamin oleh Asuransi Eksport (ASEI),” tutur Benny.

Baca Juga :   Pesawat Boeing 737 Max telah kembali.

Ketua Komite Tetap Bidang Ekspor Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Handito Joewono mengusulkan agar pelaku UMKM tidak dipaksakan untuk menjadi produsen eksportir, melainkan produsen produk ekspor saja. Pedagang ekspornya, ujar Handito, bisa menggunakan produk UMKM. “Selain itu, perlu pengembangan kepercayaan dan kapasitas produksinya,” ujar Handito.

Direktur Utama Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan UKM (Smesco Indonesia) Leonard Theosabrata mengatakan target kenaikan ekspor hingga 28 persen pada 2024 itu merupakan target jangka panjang. Menurut Leo, Smesco sudah memulai dari beberapa langkah seperti pelatihan dan pendampingan. Langkah tersebut, juga difasilitasi baik secara online atau offline.

Apabila sudah tahapan tersebut telah dilalui, Leo menuturkan Smesco mulai mengarahkan kepada perdagangan yang lebih komprehensif, misalnya dengan menaikkan angka penjualannya. “Pada tahap itu kami tak bicara ekspor dulu, tetapi distribusi lokal termasuk on boarding digital, pembinaan, dan supply material. Tahun depan, kita mulai bicara ekspor,” ujar Leo.

Editor : Realita Indonesia
Sumber : Tempo.co

Bagikan :
error: Content is protected !!