Industri Benang Jadi Kusut, Karena Pelajar Tak Beli Seragam Baru

Realita Indonesia – Meski saat ini industri benang jahit masih berdiri kokoh, tetapi Direktur Utama PT Sanda Wahono Saputra mengatakan bahwa pandemi Covid-19cukup memberikan pukulan. Pendapatan perusahaannya dibandingkan sebelum masa pandemi rata-rata menurun dari -20 hingga -30%.

Bukan hanya pendapatan, angka penjualan pun masih minus. Dia mengatakan, hal ini karena serapan market tidak sebanyak sebelum masa pandemi. Terlebih, di daerah seperti DKI Jakartayang size market-nya besar, tapi penurunannya cukup drastis.

“Jadi hal ini tidak bisa dipungkiri, kenapa? Contohnya produk pakaian jadi seperti seragam sekolah. Itu permintaannya sangat terpukul karena banyak pelajar yang tidak membeli seragam baru. Ini sangat berdampak pada permintaan pakaian jadi dan benang jahit,” ujar Wahono dalam IDX Channel Live di Jakarta, Jumat (18/9/2020).

Baca Juga :   Ini Bocoran Sri Mulyani, Soal Ada 2 Pilihan Vaksin Covid-19

Untuk itu, dalam menghadapi pandemi ini, PT Sanda menggunakan inovasi dan efisiensi sebagai strategi untuk bertahan. Pertama, mereka menerapkan fleksibilitas yang lebih tinggi.

“Sebelum pandemi, ada beberapa produk yang kami tidak produksi, atau kami produksi dalam kuantitas rendah. Jadi kami mencoba memproduksi barang-barang baru atau barang yang permintaan sebelumnya kami tidak penuhi,” jelas Wahono.

Selain fleksibilitas produk, Wahono mengatakan bahwa pihaknya juga melakukan penghematan atau efisiensi. “Kami memajukan schedule untuk overhaul mesin, sehingga kalau akhir tahun situasi sudah menuju normal, kami bisa langsung lari tanpa harus berpikir untuk servis-servis lagi. Selain itu, kami juga melakukan efisiensi dalam bentuk penghematan listrik,” lanjutnya.

Baca Juga :   Berbasis Alam, Jawa Barat Kembangkan 76 Destinasi Wisata Baru

Untuk karyawan, sebelumnya pabrik Sanda bekerja 24 jam, dan saat ini dibagi menjadi dua shift per hari. Saat ini, satu shift masih kosong karena kondisi pasar belum kembali seperti normal.

“Kami juga melihat kondisi pasar sampai bisa kembali ke 24 jam kerja. Ada beberapa karyawan yang kami terpaksa rumahkan, tapi sebisa mungkin jumlahnya kami minimalkan,” ungkap Wahono.

Dia mengakui, bahwa saat ini pihaknya tertolong dengan restrukturisasi dari bank-bank yang bermitra dengan perusahaan, serta bantuan tunjangan Rp600 ribu per bulan untuk karyawan yang terdampak atau dirumahkan.

“Ini membantu kami meng-handle cash flow untuk saat ini,” pungkasnya.

Editor : Realita Indonesia
Sumber : sindonews.com
Bagikan :
error: Content is protected !!