Indef Sebut RI Sudah Masuk Kondisi Resesi, Apa Alasannya ?

Presiden Jokowi mengikuti KTT Luar Biasa G20 secara virtual bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani dari Istana Bogor, Kamis, 26 Maret 2020. KTT ini digelar secara virtual untuk menghindari penularan virus corona.( foto Dok.Tempo.co )

Realita Indonesia – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Iman Sugema mengatakan bahwa situasi perekonomian saat ini sejatinya telah masuk ke dalam kondisi resesi. Meskipun, secara data, pada tahun ini Indonesia baru satu kali mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif secara year-on-year, yaitu pada triwulan II 2020 yang tumbuh minus 5,32 persen.

“Realitasnya sekarang ini sudah resesi. Karena essentially, tidak perlu dua triwulan, apa bedanya sih satu triwulan dengan dua atau tiga triwulan. Yang paling penting adalah rata-rata satu tahun negatif atau enggak,” ujar Iman dalam konferensi video, Selasa, 25 Agustus 2020.

Menurut Iman, selama masalah Covid-19 belum selesai pada akhir tahun ini, maka kondisi di tahun 2020 akan lebih buruk dari 2019. “Kalau lebih buruk artinya apa, resesi. No matter dua kuartal atau satu kuartal, enggak ada artinya itu. Yang penting adalah rata-rata sampai akhir tahun.”

Baca Juga :   Menteri PUPR Gandeng Para UKM, Untuk Penuhi TKDN dalam Pembangunan Infrastruktur

Iman menjelaskan secara konsensus, negara disebut masuk ke dalam kondisi resesi apabila dalam dua triwulan berturut-turut tumbuh negatif. Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi negatif 5,32 persen pada triwulan II 2020. Namun, kata dia, kalau pada triwulan III 2020 Indonesia tumbuh nol persen pun, secara rata-rata dua kuartal pertumbuhan ekonomi Tanah Air masih negatif.

“Apa bedanya kalau minus 5,32 persen di triwulan lalu, lalu nol persen di triwulan III, maka selama dua kuartal secara rata-rata masih minus katakanlah 2,7 persen. Itu kan enggak beda dengan kuartal II minus 2,7 dan kuartal III minus 2,7. Jadi secara ilmu ekonomi dan statistik enggak ada bedanya,” tutur Iman.

Iman menegaskan bahwa yang paling penting adalah melihat pertumbuhan ekonomi secara rata-rata pada tahun ini, apakah positif atau negatif di akhir 2020. “Kalau di triwulan III itu minus itu hanya konfirmasi saja. Realitasnya sekarang ini sudah resesi.”

Baca Juga :   Atas Tudingan Mendongkel Kepengurusan Demokrat, Moeldoko Langsung Bantah Hal Tersebut

Senada dengan Iman, Ketua Center Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman pun mengatakan apabila meninjau per kuartal, agak sulit bagi Indonesia menghindari resesi pada tahun ini. Namun, pemerintah tetap harus memperbaiki dan meminimalisasi kondisi ini.

“Bukan karena sudah resesi lalu dibiarkan. Justru dorongan kebijakan fiskal yang selama ini sudah disiapkan pemerintah itu harus dioptimalkan dan diefektifkan,” ujar Rizal.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2020 akan berada pada kisaran nol hingga minus 2 persen.

“Jadi untuk kuartal ketiga kita outlooknya adalah antara nol hingga negatif 2 persen. Kami lihat karena negatif 2 persen, tadi pergeseran dari pergerakan yang belum terlihat sangat sulit, meskipun ada beberapa yang sudah positif,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi video, Selasa, 25 Agustus 2020.

Baca Juga :   Sertifikat Elektronik Diterapkan untuk Tanah Pemda Untuk Tahap Awal

Sri Mulyani melihat pemulihan ekonomi pada bulan Juli masih berlanjut, meskipun masih sangat rapuh. Namun demikian, perbaikan ekonomi tersebut tidak sebaik pada Juni 2020, salah satunya lantaran adanya pergeseran hari libur dan hari raya dibanding tahun lalu.

Dengan kondisi tersebut, Sri Mulyani memperkirakan pada keseluruhan tahun pertumbuhan ekonomi Tanah Air akan berada pada kisaran minus 1,1 hingga positif 0,2 persen. Kunci utama untuk mencapai pertumbuhan nol atau positif, ujar dia, adalah konsumsi dan investasi.

Editor : Realita Indonesia
Sumber : Tempo.co

Bagikan :
error: Content is protected !!