13 Juni 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

Harga Cabai Dan Telur Ayam Kian Melonjak, Tantangan Di Ujung Akhir Tahun 2020

Realita Indonesia – Harga sejumlah komoditas pangan terpantau meningkat menjelang akhir tahun. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, harga cabai merah keriting sudah mencapai Rp59.600 per kilogram.

Padahal pada awal Desember lalu saja sudah mencapai Rp44.500 per kilogram (kg). Adapun harga cabai rawit merah dan hijau masing-masing Rp57.350/kg dan Rp50.850/kg.

“Harga cabai sampai saat ini memang sulit diturunkan. Pasokannya tidak begitu banyak, namun permintaan mulai naik. Sebulan terakhir ini harganya sudah tinggi,” tutur Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri kepada Tempo, Senin 28 Desember 2020.

Abdullah mengatakan tingginya harga cabai masih berlanjut hingga awal tahun mendatang. Jika kenaikan harga terus berlanjut tanpa adanya intervensi pemerintah, kata Muslim, pasokan di pasar juga akan berkurang karena keterbatasan modal pelaku usaha.

Ditambah lagi, daya beli masyarakat yang berkurang membuat konsumsi rumah tangga juga ikut turun. “Biasanya mereka membeli 1 kilogram, akan turun jadi setengah kilogram saja,” ujar Abdullah.

Ketua Asosiasi Hortikultura Indonesia Anton Muslim berpendapat seharusnya pemerintah sudah bisa mengantisipasi kenaikan harga cabai tersebut sejak awal. Pasalnya, kata Anton, kenaikan harga pangan pada penghujung tahun itu memiliki pola yang hampir sama setiap tahunnya, yaitu peningkatan kebutuhan untuk perayaan Natal, Tahun Baru, dan libur panjang.

Baca Juga :   Catatan Krisis Terhadap Peta Jalan Pendidikan 2020-2035

Dalam kondisi itu, Anton mengimbuhkan seharusnya pemerintah tidak menyerahkan harga pada mekanisme pasar. Belum lagi, kata Anton, ada faktor musim hujan yang berpotensi menggerus produksi atau pun gagal panen. Hal itu menyebabkan stok pasar berkurang sehingga harga melonjak. “Itu faktor alamiah. Namun, jangan sampai dampak tersebut dijadikan alasan untuk membuka keran untuk impor,” tutur Anton.

Kepala Bidang Harga Pangan, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Inti Pertiwi berujar rendahnya produksi cabai dalam negeri membuat pasokan di pasar tak bisa memenuhi tingginya permintaan masyarakat.

Menurut dia, berkurangnya pasokan cabai saat ini merupakan imbas dari kerugian besar-besaran yang dialami petani cabai pada saat harga anjlok beberapa bulan lalu sehingga petani tak punya cukup modal untuk menanam kembali.

Baca Juga :   Ini Susunan Ketua dan Anggotanya,Jokowi Lantik Kompolnas 2020-2024

Inti mengatakan, penutupan hotel, restoran, dan kafe (horeka), serta pasar tradisional di masa pandemi untuk menekan transmisi virus corona, telah menyebabkan penyerapan produksi cabai turun 90 persen.”Kami intervensi dari sisi distribusi komoditas yang dihasilkan oleh petani yang akan dikirim ke pasar sebagai langkah jangka pendek,” ujat Inti.

Menurut Inti, harga cabai diprediksi pada pekan ketiga Januari akan mulai turun. Puncaknya kenaikan harga pada Januari terjadi karena masa panen di Jawa Timur sudah memasuki masa akhir pemetikan. Nanti, meski begitu pada akhir Januari diperkirakan wilayah Jawa Tengah akan memasuki musim panen sehingga harganya akan.

“Kalau pemerintah turun tangan dari awal tahun nanti untuk distribusi dan menahan harga tinggi, maka harga akan lebih landai lewat kebijakan harga dari wilayah produksi ke konsumsi,” tutur Inti.

Selain cabai, Inti berujar harga komoditas telur ayam juga mengalami kenaikan, yaitu rata-rata nasional masih berkisar Rp28.000/kg. Menurut dia, kenaikan harga telur terjadi sejak beberapa bulan terakhir karena kenaikan permintaan selama pandemi. “Karena telur lebih mudah dijangkau oleh masyarakat semasa pandemi sehingga permintaannya naik,” kata Inti.

Baca Juga :   Kemenkes Sebut Warga Yang Pingsan Usai Di Vaksin Itu Akibat Tidak Jujur Saat Wawancara

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Syailendra berujar harga telur disebabkan keterbatasan pasokan di saat permintaan naik. Konsumsi telur biasanya 14,7 kg per kapita naik menjadi 18,7 kg kapita atau naik 27 persen. Sementara itu, produksi telur menurun di saat bersamaan.

Keterbatasan pasokan telur ayam ini, ujar Syailendra, merupakan imbas dari importasi grandparent stock (gps) untuk bibit pada 2018 diturunkan menjadi 25 ribu bibit.

“Adapun produksinya dibutuhkan waktu 95-100 pekan sehingga dampaknya terasa di 2020. Pada 2019 importasi sudah 31 ribu bibit, sehingga diperkirakan pasokan pada 2021 akan naik kembali,” tutur Syailendra.

Syailendra mencatat kekurangan telur hingga Desember ini mencapai 8.901 ton. Selain itu, kenaikan harga telur juga diakibatkan lonjakan harga impor kedelai yang dijadikan pakan ayam sehingga harga a day old chicken (DOC) ikut naik.

Editor : Realita Indonesia

Sumber : Tempo.co

Bagikan :
error: Content is protected !!