12 Juni 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

Diprediksi Bakal Rampung Pertengahan 2021 Untuk Pengembangan Vaksin Covid-19

Realita Indonesia – Vaksin Covid-19 mendesak dibutuhkan karena kasus penularan masih tinggi. Banyak pihak tengah mengupayakan pengadaan vaksin, baik dari dalam negeri lewat lembaga riset dan perguruan tinggi, maupun impor. Sebab, untuk menghasilkan vaksin perlu riset dalam waktu cukup lama.

“Biasanya penelitian untuk obat secara umum perlu riset sepuluh sampai dua puluh tahun. Sedangkan kita tidak bisa menunggu selama itu untuk vaksin Covid-19,” ujar Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif BPOM, Nurma Hidayati dalam webinar Markplus The 2nd Series Industry Roundtable (Episode 18), Selasa (17/11).

Nurma menerangkan bahwa yang dilakukan oleh para peneliti dan produsen saat ini adalah bagaimana mempercepat proses produksi vaksin. Salah satunya adalah dengan uji klinis yang dilakukan pada hewan dan manusia. Dalam waktu dua sampai lima tahun, keberadaan vaksin tersebut akan terus diteliti agar pengembangan vaksin semakin sempurna.

Baca Juga :   Atas Kasus Intoleransi, Indonesia Bisa Berperan Lebih Besar Lho

“Kuncinya percepatan proses. Ketika disuntikkan muncul kekebalan, silakan dilanjutkan sembari perkembangannya diamati. Itu yang dilakukan oleh banyak pihak sekarang ini,” sambungnya.

Setidaknya ada beberapa lembaga riset dan universitas yang mengembangkan vaksin covid-19, dengan realisasi paling cepat pada pertengahan 2021.

Namun sampai waktu tersebut, vaksin impor yang sudah hampir siap didistribusikan dalam waktu dekat jadi solusi jangka pendek. Selain itu, produk impor juga ditujukan untuk pengembangan vaksin yang diproduksi dalam negeri.

Obatan Herbal

Sembari menunggu keberadaan vaksin yang sedang dalam tahap uji klinis, masyarakat mengalihkan perhatiannya kepada obat-obatan herbal penjaga imunitas. CEO Kalbe Farma, Vidjongtius mengatakan, perusahaan kini sudah memiliki belasan produk herbal di mana di masa depan akan terus bertambah sesuai permintaan konsumen.

Baca Juga :   Anies Baswedan : Fase Mengundang, Soal Vaksinasi Covid-19 Pedagang Pasar Tanah Abang

“Masyarakat juga semakin sadar akan standarisasi uji klinis. Makanya kami juga terus kembangkan produk herbal dengan standar tersebut. Potensinya di masa depan sangat besar,” ungkapnya.

Wakil Ketua Bidang Humas DPP GP Jamu, Edward Basilianus mengatakan, industri obat herbal diharapkan bisa tumbuh sampai 7 persen. Data Kementerian Perindustrian juga menunjukkan potensi nilai penjualan jamu di pasar domestik sekitar Rp20 triliun dengan ekspor senilai Rp16 triliun.

Edward menambahkan, Indonesia memiliki sumber daya untuk produksi obat-obat herbal dari dalam negeri yang melimpah. Meski begitu, masih banyak produk herbal yang mengandalkan bahan baku impor.

“Ini yang harus kita tekankan. Bahan baku dalam negeri juga bisa menekan harga produk herbal lebih terjangkau,” tutup Edward.

Baca Juga :   Dilihat dari Realita, Resesi Sudah Terjadi, Kata Pengusaha

Editor : Realita Indonesia

Sumber : merdeka.com

Bagikan :
error: Content is protected !!