17 Mei 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

Dilihat dari Realita, Resesi Sudah Terjadi, Kata Pengusaha

resesi sudah terjadi ( foto Dok.merdeka.com)

Realita Indonesia – Ekonomi Indonesia terkontraksi 5,32 persen pada kuartal II 2020. Penyebabnya, tak lain dan tak bukan pandemi Covid-19 yang belum kunjung mereda.

Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Soetrisno Iwantono menyatakan, di triwulan III 2020, Indonesia diperkirakan masih akan mengalami kontraksi ekonomi, sehingga resesi teknikan secara resmi akan terjadi.

“Sebenarnya secara teknikal sudah masuk resesi karena triwulan II negatif, triwulan III juga diperkirakan akan negatif. Mungkin di Triwulan IV kita harap bisa positif,” ujar Soetrisno saat dihubungi Liputan6.com, seperti ditulis Kamis (27/8/2020).

Ekonomi diprediksi bisa tumbuh di Triwulan IV dikarenakan beberapa hal, seperti penyerapan anggaran pemerintah yang bakal dipercepat, lalu dimulainya kembali aktivitas ekonomi hingga adanya harapan ditemukannya vaksin.

Dari sisi pengusaha, Soetrisno bilang, terjadinya resesi atau tidak sebenarnya cuma masalah titel. Saat ini, pengusaha sudah mengalami “resesi” di lapangan secara tidak langsung, terutama bagi pengusaha kecil.

Baca Juga :   Terkait Impor Beras, Ganjar Pranowo Sebut Petani Hari Ini Butuh Perlindungan, Terkait Impor Beras

“Di lapangan, di pabrik, kerja baru 30 persen (karyawan yang masuk), hotel 30 persen (okupansi), sudah sekian bulan bagaimana nggak resesi, bagaimana tahan? Dan nggak perlu menghindar juga,” katanya.

Selama masih belum krisis, dunia usaha dan ekonomi secara keseluruhan diyakini bisa kuat dan tahan menghadapi pandemi.

Namun tentu saja, jika hal ini terjadi terus-terusan, hal buruk bisa terjadi. Oleh karenanya, saat ini pemerintah harus terus mendorong stimulus dari sisi permintaan untuk menciptakan daya beli masyarakat.

“Resesi itu, ya, tinggal gelarnya saja. Di realita, kita sudah masuk itu di lapangan kan sudah susah usaha-usaha kecil, kan nggak bisa dagang. Di Tanah Abang, Mayestik, Pondok Gede. Kalaupun jualan juga nggak ada yang beli,” ujarnya.

Baca Juga :   Memasuki Capres 2024, Kang Emil Dihadapkan Sejumlah Tantangan Ini

Belanja Pemerintah

Aktivitas warga di bantaran Kanal Banjir Barat dengan latar belakang gedung pencakar langit di Jakarta, Kamis (6/8/2020). Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II/2020 minus 5,32 persen akibat perlambatan sejak adanya pandemi COVID-19. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sedangkan Staf Khusus Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal Regional Menteri Keuangan Candra Fajri Ananda menjelaskan, pemerintah terus mendorong konsumsi masyarakat di tengah pandemi covid-19. Hal ini sebagai salah satu upaya Indonesia untuk menghindari resesi.

“Pada prinsipnya, jika kita perhatikan dari variabel makro ekonomi, hampir semua variabel seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor mengalami kontraksi yang cukup dalam. Untuk itu, di kuartal III seharusnya kita harus pada variabel yang bisa kita kontrol seperti belanja pemerintah,” beber Fajri Ananda kepada Liputan6.com seperti ditulis Kamis (27/8/2020).

Baca Juga :   Mabes Polri menyatakan siap mengamankan 270 wilayah dalam rangkaian kegiatan Pilkada

Untuk itu, Candra menyebutkan setidaknya Rp 500 triliun belanja kementerian dan lembaga perlu direalisasikan sepanjang Agustus hingga September. “Tentu ini tidaklah mudah, tetapi dengan upaya maksimal maka kita berharap capaian pertumbuhan lebih baik dan tidak minus untuk menghindari krisis,” kata dia.

Di luar itu, Candra menilai Pemerintah perlu melakukan harmonisasi program dengan Pemerintah Daerah untuk mengurangi overlapping program. “Kedepan, seharusnya data yang selama ini bermasalah, perlu dibuat terintegrasi dan bisa dimanfaatkan bersama oleh semua lembaga,” pungkas dia.

Editor : Realita Indonesia
Sumber : liputan6.com

Bagikan :
error: Content is protected !!