Cerita Seorang Atlet Badminton: Alan Budikusuma

Jakarta, Realita Indonesia – Saya sudah diperkenalkan dengan badminton sejak masih lima tahun oleh orang tua. Awalnya bukan untuk jadi pemain, melainkan hanya sekadar iseng saja.

Klub pertama saya PB Rajawali, klub yang saya bela hingga umur sembilan. Saya juga mulai ikut kejuaraan antar sekolah SD di Surabaya. Saya bisa meraih peringkat ketiga. Dari titik itu, saya lebih giat untuk berlatih karena ternyata bisa punya prestasi setelah bermain badminton hanya sekadar iseng.

Setelah ikut kejuaraan antar sekolah, saya lebih semangat. Orang tua juga makin aktif mengikutkan saya pada kejuaraan di Jawa Timur. Mulai dari Pasuruan, Kediri, saya seperti keliling ikut turnamen saja.

Saya bisa ditarik ke Jaya Raya karena mampu masuk perempat final di POPSI. Saat SMA semester kedua, saya sudah mulai masuk Sekolah Atlet Ragunan.

Tahun 1985, saya pindah klub ke PB Djarum. Itu juga jadi titik saya mengalami kemajuan pesat dalam karier. PB Djarum punya nama besar karena melahirkan pemain-pemain macam Liem Swie King, Hastomo Arbi, dan Christian Hadinata. Gemblengan dari pelatih PB Djarum membuat saya jadi sosok yang berbeda.

Saya bisa masuk pelatnas pada 1985 setelah jadi runner-up Seleksi Nasional, kalah dari Hermawan Susanto. Saya diberi kesempatan PBSI untuk mengikuti latihan di Pelatnas yang saat itu masih dilakukan di Hall C Senayan. Atlet Pelatnas juga masih tinggal di Jalan Manila.

Saat saya masuk, masih zaman kepengurusan Pak Ferry Sonneville. Baru setahun kemudian kepengurusan era Pak Try Sutrisno dimulai dan ada project menuju Olimpiade Barcelona 1992.

Sebagai pemain muda, saya masuk proyeksi menuju Olimpiade. Di 1985 hanya ada tiga orang. Setahun kemudian, mulai masuk pemain muda hingga 20-an orang. Makanya kemudian dibentuk pelatnas pratama.

Sebagai pemain baru di Pelatnas, saya sangat senang sekali. Saya adalah pemain asal daerah, tentu gembira bisa latihan di pelatnas dan berlatih bersama pemain yang sudah jadi juara All England dan juara dunia.

Pada 1987 saya mulai bisa jadi juara di Thailand Open, dari situ perkembangan karier saya terus berjalan. Saya bisa juara di berbagai tempat.

Empat tahun kemudian saya jadi runner-up Kejuaraan Dunia 1991. Persiapan saya menuju turnamen itu cukup baik. Bisa masuk final Kejuaraan Dunia merupakan sebuah kejutan.

Di babak final saya menghadapi Zhao Jianhua. Dari segi ranking dan pengalaman, dia jauh di atas saya. Dia lebih senior, lebih berpengalaman menghadapi final dibandingkan saya.

Secara pribadi tentu saya berharap bisa menjadi juara dunia karena saya selalu menganggap belum tentu sebuah kesempatan datang dua kali. Namun dalam final Kejuaraan Dunia tentu ada ketegangan dan keinginan besar yang berubah jadi tekanan. Zhao Jianhua ada di atas saya dalam mengatasi hal tersebut.

Hancur di Piala Thomas 1992

Tahun 1991 juga menandai setahun jelang Olimpiade. Kami, pemain-pemain Indonesia sudah mulai kejar-kejaran untuk bisa masuk babak kualifikasi. Saya, Ardy B. Wiranata, Joko Suprianto, dan Hariyanto Arbi yang saat itu masih muda ikut bersaing.

Untuk bisa meloloskan tiga wakil, Indonesia harus menempatkan tiga wakil itu di peringkat lima besar. Sedangkan untuk dua wakil, keduanya harus ada di delapan besar.

Saya punya keyakinan, namun saya tidak mau menganggap remeh dalam menghadapi persaingan perebutan tiket. Saya percaya hal itu bakal berbahaya karena bisa membuat peringkat saya malah jatuh.

Saya yakin bahwa Olimpiade 1992 bakal jadi golden age bagi saya. Empat tahun kemudian, saya sudah tidak yakin. Di bulan Mei akhirnya saya diumumkan berhasil jadi salah satu wakil Indonesia di Olimpiade.

Pada bulan Mei 1992 itu pula, saya merasakan pengalaman pahit. Saya gagal menyumbang angka di final Piala Thomas. Indonesia akhirnya gagal membawa pulang Piala Thomas yang sudah lama tidak direbut.

Saya dipasang di partai final sebagai tunggal kedua karena dipercaya punya peluang menang yang besar melawan Foo Kok Keong. Dari segi rekor saya lebih unggul, mungkin saat itu 8-2, saya lupa tepatnya.

Pelatih Pak Indra Gunawan yakin saya bisa menang karena keunggulan rekor tersebut. Ternyata, karena pelatih yakin, saya justru jadi tegang dan terbebani.

Saya maju ke pertandingan dengan pola pikir tidak boleh kalah. Cara berpikir dan tujuan ‘harus menang’ yang kemudian membebani saya, padahal dalam sebuah permainan, menang-kalah tidak bisa diprediksi.

Baca Juga :   Sport News : Rencana Jumpa Pers Mandalika Racing Team Indonesia, Diklarifikasi Kemenpora

Dari sisi permainan, tekanan suporter juga jadi pressure buat saya. Hakim garis juga memberikan banyak keuntungan bagi tuan rumah, bukan hanya 1-2 kali. Hal itu membuat saya jadi goyah. Tekanan yang ada berat sekali. Saya melakukan banyak kesalahan, tegang, dan tidak bisa berpikir jernih.

Setelah pulang saya sempat merasa stres sekitar dua minggu. Tentu saya tak mau kalah. Siapa yang mau kalah? Saya sudah mempersiapkan diri untuk Piala Thomas 1992 dengan luar biasa, ternyata hasilnya tidak sesuai.

Media memberikan kritikan yang cukup tajam untuk saya, padahal yang kalah bukan hanya saya. Kenapa dianggap saya yang jadi penyebab kekalahan? Karena di antara pemain yang kalah, saya yang dianggap punya peluang menang karena unggul head to head. Jadi kesalahan ditimpakan ke saya.

Namun saya sadar bahwa begitulah risiko jadi pemain yang diharapkan menyumbang poin.

Pak Indra juga sempat kecewa karena saya diharapkan bisa menang. Sebetulnya secara umum, di Piala Thomas 1992 itu Malaysia adalah tim underdog.

Tim yang difavoritkan adalah China dan Indonesia untuk bertemu di final. Ternyata Malaysia bisa mengalahkan China di semifinal dan bisa tampil luar biasa dengan dukungan penonton.

Saya merasa bahwa situasi tidak baik, padahal sebentar lagi Olimpiade berlangsung, hanya berjarak 2,5 bulan dari momen tersebut.

Di tengah situasi sulit itu peran dan dukungan dari orang tua, Susy Susanti, dan pelatih Pak Indra punya nilai penting. Selain itu ada pula sosok senior saya, Koh Eddy Kurniawan.

Beliau berkata, “Sebagai pemain harus bisa menghadapi ini, kekalahan bukan berarti habis. Kekalahan itu bisa jadi cambuk agar kamu berlatih lebih giat”. Begitu pesan Koh Eddy.

Kalau saja saat itu hari-hari saya tidak dibantu dan didampingi dengan obrolan-obrolan bersama Susy, orang tua, pelatih, dan Koh Eddy, mungkin saya berpikir lebih baik berhenti saja. Karena di titik itu, saya sendiri juga sudah tak yakin.

Bagi saya, segalanya sudah tak ada saat itu. Kesan yang saya dapatkan seperti itu, tentunya dengan begitu saya butuh pendampingan.

Saya diberi dorongan untuk kembali latihan. Saya mulai percaya bahwa kekalahan tak mungkin terus-terusan. Yang terpenting adalah bagaimana bisa bangun dari kekalahan itu, menganalisis kekalahan, dan berusaha bangkit terutama dari segi mental.

Karena kondisi saya sedang tidak baik, Pak Indra lebih berharap ke Ardy untuk Olimpiade 1992. Saya sendiri hanya berpikir bagaimana bisa bermain dan memberikan yang terbaik.

Saya hanya ingin memperbaiki performa saya dari babak awal. Ternyata semakin hari, permainan saya di Barcelona semakin baik. Performa saya terus meningkat dan kepercayaan diri saya terus berubah karena saya makin yakin.

Saya hanya coba memikirkan strategi tiap poin. Saya lakukan itu karena saya takut terpengaruh lagi bila berpikir dalam skala lebih besar. Saya hanya berpikir strategi untuk dapat poin per poin. Pun begitu dengan lawan, saya fokus satu per satu.

Di babak perempat final keberhasilan Hermawan mengalahkan Zhao Jianhua merupakan sebuah hal yang luar biasa. Karena bila Zhao Jianhua yang masuk semifinal, Ardy juga bakal kesulitan lantaran rekor pertemuan mereka.

Dengan Hermawan bisa menaklukkan Zhao Jianhua, tentu jadi hal bagus lantaran menciptakan All Indonesian Semifinal antara Ardy lawan Hermawan. Tim Indonesia juga kemudian di atas angin karena bisa memiliki tiga wakil.

Saya harus melawan Thomas Stuer-Lauridsen di babak semifinal. Saya berusaha untuk tidak terbebani. Kembali, saya hanya fokus tanpa memikirkan hasil.

Trauma kekalahan di Piala Thomas sudah hilang seiring kemenangan yang saya dapat di babak sebelumnya. Akhirnya saya bisa menang dan memastikan Indonesia meraih emas.

Tim tentu sangat senang karena PBSI pasang target satu emas. Dengan keberhasilan saya dan Ardy masuk final, tentu emas sudah di tangan, bahkan perak dan perunggu. Sebuah sejarah yang tak bisa diulangi hingga saat ini.

PBSI juga gembira karena target terpenuhi dan tinggal berharap pada Susy. Tentu langkah Susy lebih berat karena dia sendirian di tunggal putri.

Melawan Ardy di final, saya tak punya beban. Beban di semifinal jelas lebih berat. Ketika saya menang lawan Thomas, Indonesia sudah pasti juara dan dapat emas. Di final tak peduli menang-kalah karena sama-sama Indonesia.

Baca Juga :   Olahraga yang Cocok Untuk Anak Down Syndrom

Sebelum lawan Ardy di final, saya justru lebih khawatir pada Susy. Saya berharap Susy bisa menang. Kalau saya lawan Ardy, siapapun yang menang kan tetap Indonesia.

Dari segi head-to-head sepertinya saya lebih unggul dari Ardy. Namun bila suasana lapangan panas, biasanya saya kalah. Saya ingat waktu duel lawan Ardy di Indonesia di Solo. Saat itu kami main di GOR yang panas dan akhirnya saya kalah.

Memainkan All Indonesian final di Olimpiade, saya dan Ardy tak lagi didampingi pelatih. Pak Indra tentunya sudah lepas dari beban berat karena misinya sudah berhasil yaitu membawa medali emas Olimpiade.

Di final Olimpiade saya hanya terus berusaha menjaga strategi di tiap poin. Begitu menang di set pertama, saya tak mau banyak berpikir macam-macam. Karea makin dipikirkan, nanti bisa makin kacau di lapangan.

Saya akhirnya bisa menang! Saya juara Olimpiade! Tentunya saya pasti senang karena seolah terbayar kekalahan sebelumnya di Thomas Cup. Saya bisa membuktikan bahwa saya mampu berprestasi dengan baik.

Tentunya saya bisa juara juga berkat dukungan Susy, keluarga, Pak Indra, Pak Rudy, dan juga Koh Eddy. Tanpa mereka, saya tak akan bisa.

Sedikit intermezzo, dalam penyelenggaraan Olimpiade tersebut, kami atlet Indonesia dibekali pin. Pin itu sering dibuat pertukaran dengan atlet lain. Ternyata atlet negara lain tidak ada yang mau ditukar dengan atlet Indonesia. Pin Indonesia tidak terlalu laku.Saat Indonesia Raya berkumandang dan bendera Merah-Putih berkibar, ada rasa bangga dalam diri saya karena bisa menyumbangkan medali untuk negara saya.

Mungkin mereka berpikir, “Indonesia mana ya?”, Saking tidak dikenalnya Indonesia, mungkin terlalu jauh.

Saya ingat satu pin atlet Amerika Serikat itu mungkin baru bisa ditukar 20 atau 10 pin Indonesia. Ada juga yang benar-benar tidak mau. Saya juga mengalami sendiri. Mau coba tukar, ternyata tidak ada yang mau.

“Buset,” ujar saya waktu itu.

Tetapi setelah Indonesia dapat dua medali emas, lalu Indonesia ada di peringkat ke-17, baru pin Indonesia laku untuk ditukar. Baru pin tersebut terasa ada nilainya setelah sempat kurang.

Memang persaingan anatarnegara sangat luar biasa di Olimpiade. Makanya saya berharap olahraga semakin hari semakin baik. Saya berharap pemerintah semakin memperhatikan olahraga, tidak hanya sekadar sambilan.

Saat pesta olahraga dunia, posisi atlet dan negara itu terasa. Kebanggaan atlet itu pada saat bertemu dan mendapat pujian seperti, “Wah dari Indonesia, bagus nih”. Hal seperti itu tidak bisa dibeli.

Selain juara Olimpiade, saya juga pernah juara Piala Dunia juga jadi bagian tim juara Piala Thomas. Namun saya hanya jadi runner-up Kejuaraan Dunia dan hanya sempat masuk semifinal All England.

Bila ditanya puas atau tidak? Tentunya puas. Namun tentu saya sebagai atlet tetap merasa ada yang kurang karena pastinya saya juga ingin jadi juara All England dan juara dunia.

Berjumpa dan Jatuh Cinta pada Susy Susanti

Saya bertemu Susy pertama kali saat ditarik ke Jakarta oleh Jaya Raya pada 1983. Saat itu hanya sekadar ketemu karena saya di Jaya Raya hanya sebentar lantaran 1985 saya sudah masuk pelatnas.

Saat itu kami hanya kenal sepintas. Barulah pertemuan kami lebih intens pada 1986 saat Susy juga masuk pelatnas pratama karena setiap hari bertemu.

Saya dan Susy mulai pacaran 1987. Ketertarikan saya pada Susy bisa dibilang karena di keluarga, saya adalah anak paling besar, punya adik empat, dan biasanya sering ngobrol. Sedangkan di Jakarta saya tidak punya saudara.

Susy juga biasanya ada dan ngobrol dengan kakaknya, jadi kondisinya sama.

Status pacaran kami tentunya pasti ketahuan oleh pelatih dan pengurus di pelatnas. Tidak mungkin bisa ngumpet-ngumpet.Karena tak ada saudara sulit bagi saya untuk curhat, kalau telepon orang tua tentu mahal karena saat itu telepon belum seperti sekarang. Akhirnya kami sering ngobrol dan jadilah makin dekat.

Kami berusaha saling mendukung. Meskipun dulu karena masih kolot, pacaran dianggap mengganggu. Hal itulah yang harus kami jaga.

Kami coba membuktikan bahwa pacaran bisa tetap berjalan dengan saling dukung dan tak mengganggu karier. Menurut saya pacaran sesama pemain lebih baik karena tujuan kami sama.

Kalau bukan sesama atlet, bisa berbeda tujuannya. Satu ke kiri, satu ke kanan. Kalau sama-sama atlet, pola pikir pasti sama. Pokoknya berangkat dan juara.

Saat masih latihan di Senayan, paling kami hanya jalan-jalan nonton bioskop ke Blok M atau Djakarta Theater. Begitu pindah ke Cipayung, jadi jauh ke mana-mana.

Baca Juga :   Duh! Timnas Indonesia Kecolongan Dan WonderKid Ikuti Andri Syahputra Untuk Gabung Ke Qatar

Namun menurut saya lokasi Cipayung itu sangat bagus. Karena waktu latihan mepet, akhirnya lebih banyak ngobrol di Cipayung.

Dalam hubungan kami tentu kalau marahan bakal berpengaruh pada pertandingan. Karena itu kami harus jaga. Hubungan kami terbilang tidak naik-turun. Mungkin karena satu profesi dan cara berpikirnya sama.

Tahun berlalu, akhirnya kami berangkat ke Olimpiade Barcelona. Jelang keberangkatan ke Olimpiade, Susy punya beban yang sangat besar. Karena setiap ketemu pengurus di luar badminton, Susy selalu mendapat sapaan ‘Menang ya’ atau ‘Medali Emas ya!’. Seperti itu.

Karena itu Susy harus bisa menjaga konsentrasinya. Namun di Barcelona, kami justru bersikap biasa, tidak malah jadi kaku dan fokus pada masing-masing. Bila memang ingin ngobrol, ya kami ngobrol. Karena ngobrol menghilangkan ketegangan. Bila ingin istirahat, ya istirahat.

Situasi di Barcelona itu sebenarnya juga pelajaran dari situasi di Piala Thomas beberapa bulan sebelumnya. Di Malaysia, karena tiap pertandingan terlalu banyak didiskusikan dan dibicarakan, malah jadi pusing sendiri.

Di bulan Mei, saya merasa suasana tim terlalu banyak diskusi dan menaikkan ketegangan. Seharusnya situasi yang dibangun biasa saja.

Itulah kenapa saya dan Susy memilih santai. Bila ngobrol sama Susy, saya pun ngobrol topik lain. Istirahat, latihan. Tidak selalu tentang pertandingan. Bisa stress nanti.

Seperti yang telah saya tuliskan, jelang final saya lebih mengkhawatirkan Susy. Kalau di final tunggal putra, saya sudah lepas beban karena Indonesia sudah pasti juara.

Meski khawatir pada Susy, saya tidak menonton langsung laga final antara Susy lawan Bang Soo Hyun. Bila mau saya sebenarnya masih punya waktu untuk menonton.

Namun saya adalah tipe orang yang tegang dan bisa terbawa suasana bila menonton pertandingan orang. Karena itu saya pilih tidak nonton dan pergi ke warming up hall.

Ada di warming up hall, saya tetap dapat kabar pertandingan Susy. Saya juga dengar bahwa Susy kalah di set pertama. Saya berharap ‘Mudah-mudahan Susy bisa menang di set kedua’.

Ternyata Susy menang! Setelah menang di set kedua, saya yakin dan bisa lebih tenang di rubber set. Karena saya tahu Susy memang tipe pemain yang seperti itu, lambat panas. Akhirnya Susy bisa juara, saya juga bisa juara.

Setelah selesai, kami lebih rileks karena selama Olimpiade, jadwal lebih ketat. Ada waktu 2-3 hari sebelum pulang tetapi kami hanya santai di sekitaran kompleks Olimpiade saja.

Usai menang di Olimpiade, suasana menurut saya masih biasa di Barcelona. Barulah ketika sampai Jakarta, suasananya terasa. Kami langsung diarak keliling kota hingga sampai di Ancol. Kami kemudian dipanggil Menpora dan mendapat Bintang Jasa Utama.

Sebelum Olimpiade, saya rasa hubungan saya dan Susy tidak terlalu banyak diketahui orang. Sesudah Olimpiade, semua seolah jadi tahu hubungan saya. Saya tak menyangka dan kami semakin dikenal setelah itu.

Memang setelah jadi juara, banyak yang komentar, “Ya sudah, berdua menikah saja, jadi pengantin saja”. Makanya disebut Pengantin Olimpiade.

Dari keluarga juga senang dengan keberhasilan kami. Kami mampu membuktikan bahwa bisa tetap berprestasi dan pacaran tidak mengganggu kami. Karena sebelumnya orang tua memang selalu mewanti-wanti kami agar jangan sampai terganggu dan berlatih dengan benar.

Olimpiade adalah ajang terbesar. Dengan juara Olimpiade, hal yang kami cita-citakan sudah tercapai. Secara hubungan, kami jadi lebih baik. Namun bukan berarti kalau tidak juara, hubungan jadi tidak baik hehehe.. Yang pasti hubungan kami jadi lebih baik.

Sampai saat ini, bila saya dan Susy pergi ke suatu tempat, masih banyak yang mengenali kami. Tentu saya bersyukur kami bisa dikenal sampai saat ini.Kami menikah di 1997, banyak sekali yang datang. Waktu itu saya banyak dibantu Pak Hadibowo, senior saya di PB Djarum yang kini sudah almarhum. Pak Try Sutrisno yang saat itu sudah jadi Wakil Presiden datang. Penjagaan luar biasa. Saya benar-benar kebingungan di ruang tunggu. Pak Hadibowo lalu yang kemudian mengurus segala macam tentang persiapan protokoler dan lainnya.

Saya berpendapat bahwa Tuhan sudah mengatur semua hingga saya sampai menjadi sosok seperti saat ini. Saya bersyukur bisa memberikan arti untuk Indonesia. Bisa membanggakan Indonesia. Dan tentunya membanggakan orang tua yang ikut senang dengan keberhasilan saya.

Sumber: cnnindonesia.com

Editor: Realita Indonesia

Bagikan :
error: Content is protected !!