Bukan Lebih Tinggi Di Atas Pandemi, Jadi Ini Arti Sindemi Covid-19 Yang Sebenarnya

Realita Indonesia – Beberapa ilmuwan di dunia menyebut virus Corona sebagai sindemi. Sindemi disebut membuat kerentanan terhadap suatu penyakit lebih tinggi, dalam hal ini COVID-19.

“Sindemi dicirikan dengan interaksi biologis dan sosial antara kondisi dan keadaan, interaksi yang meningkatkan kerentanan seseorang terhadap bahaya atau memperburuk hasil kesehatannya,” jelas Richard Horton, Pemimpin Redaksi jurnal ilmiah The Lancet.

“Mendekati COVID-19 sebagai sindemi akan mengundang visi yang lebih besar, yang mencakup pendidikan, pekerjaan, perumahan, pangan, dan lingkungan,” lanjutnya.

Menanggapi hal ini, ahli epidemiologi dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, menjelaskan sindemi bukan berarti satu tingkat di atas pandemi. Istilah sindemi pun disebutnya bukan merupakan hal baru.

Baca Juga :   Meski Belum Dibolehkan Pemprov Jateng, Batang Akan Berencana Untuk Gelar Sekolah Tatap Muka

Dicky menjelaskan sindemi merupakan gabungan atau kombinasi dari tidak hanya satu penyakit, tetapi beberapa penyakit. Seperti misalnya penyakit diabetes, obesitas, penyakit jantung, hipertensi, keempatnya bisa disebut sindemi karena saling berkaitan.

“Kalau misalnya COVID-19 ini dilihat dari sisi sindemi sebetulnya ya tetap pandemi juga, karena itu bukan istilah epidemiologi,” ungkapnya saat dihubungi detikcom Jumat (13/11/2020).

“Nah kalau dari sisi pandemi ilmu wabah itu adanya local outbreak, kemudian ada epidemi, ada pandemi, ada juga endemik,” lanjut Dicky.

Sementara itu, Dicky menjelaskan apa yang dimuat dalam jurnal The Lancet terkait sindemi memiliki beberapa aspek yang tak hanya berdasarkan ilmu wabah semata. Salah satunya termasuk aspek sosial dan ekonomi.

Baca Juga :   Untuk Tangani Pandemi Covid-19, Rp800 Triliun Sudah Digelontorkan Hasilnya Mana?

“Tetapi sudah melihat aspek sosial, ekonomi, jadi misalnya oh kenapa COVID-19 ini di satu negara parah banget, karena dikatakanlah di Amerika itu obesitasnya tinggi, penyakit jantung orangnya banyak, lansia banyak, ketidaksetaraan dalam akses pelayanan kesehatan juga terjadi, nah itu sindemi,” tegasnya.

Editor : Realita Indonesia

Sumber : detikhealth.com

Bagikan :

Next Post

Dampaknya Bisa ke Wisatawan Asing, Soal RUU Larangan Minuman Berakohol

Jum Nov 13 , 2020
Realita Indonesia –¬†RUU Larangan Minuman Beralkohol sedang digodok di DPR. PHRI Jatim menyebut undang-undang tersebut bisa berdampak terhadap wisatawan asing. DPR sedang menggodok RUU Larangan Minuman Beralkohol yang mengatur sanksi pidana atau denda bagi peminum minuman beralkohol. Sanksi pidana bagi peminum minuman beralkohol diatur dalam Pasal 20. Pelanggar undang-undang tersebut […]

Breaking News

error: Content is protected !!