13 Juni 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

Bintan akan Kembangkan Desa Wisata Selain Gurun Pasir Telaga Biru

Gurun Telaga Biru di Desa Busung, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, belum lama ini. (dok. KOMPAS.com )

Realita Indonesia – Desa Wisata Busung merupakan salah satu wisata berbasis masyarakat di Bintan, Kepulauan Riau. Tempat wisata ini terkenal akan keindahan Gurun Pasir Telaga Biru. Dulunya, kawasan ini merupakan bekas penambangan pasir.

Cekungan bekas galian tersebut kini terisi air hujan yang kemudian dikelola menjadi tempat wisata oleh masyarakat setempat. Ternyata, Desa Wisata Busung hanyalah satu dari beberapa wisata berbasis masyarakat yang masih perlu dikembangkan.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bintan, Wan Rudy Iskandar, menuturkan bahwa potensi pariwisata berbasis masyarakat di Bintan terbilang cukup besar.

“Kami punya potensi yang luar biasa. Ada Gurun Pasir Telaga Biru, pengembangan mikro di desa-desa wisata kita yang ada di Pengudang,” kata Rudy dalam sesi webinar bersama Indonesian Ecotourism Network (Indecon) berjudul “Usaha Pariwisata Berbasis Masyarakat di Bintan dalam Menghadapi Kondisi New Normal”, Selasa (9/6/2020).

Pandemi virus corona (Covid-19) membuat mereka lebih berfokus dalam tahap pengembangan lebih lanjut agar siap menghadapi era new normal. Rudy menuturkan, jika pergerakan pariwisata sudah memungkinkan, pasar pariwisata berbasis masyarakat akan lebih difokuskan pada area sekitar Kepulauan Riau.

Baca Juga :   Awas! Stres Dapat Memperburuk Gagal Ginjal

Pelatihan dan promosi
Ketua Asita Tanjungpinang dan Bintan, Sapril Sembiring, menuturkan bahwa beberapa hal yang harus dilakukan guna memajukan pariwisata berbasis masyarakat tersebut adalah adanya pelatihan bagi masyarakat.

Adapun pelatihan yang dimaksud antara lain adalah kampanye sadar wisata yang harus dilakukan secara konsisten, membuat video promosi, vlogging, serta teknik pemasaran digital.

Sapril mengatakan bahwa wisatawan yang datang ke Desa Wisata Busung, biasanya hanya berkunjung selama satu sampai dua jam saja. Padahal, lanjutnya, tempat tersebut memiliki potensi wisata yang menarik. “Perlu ditingkatkan, ada homestay. Di sini kurang optimal. Bisa dieksplor lagi kawasan untuk dikembangkan ekonomi masyarakat yang lebih besar,” tutur Sapril.

Sapril berpendapat bahwa agar pariwisata berbasis masyarakat dilirik wisatawan, pihak pengelola harus mampu mempromosikan pariwisata yang menyenangkan.

Pariwisata yang menyenangkan, lanjutnya, bisa dicapai jika protokol kesehatan segera dibuat agar bisa membuka kembali lapangan pekerjaan, serta mengurangi dampak yang dirasakan oleh pelaku usaha kecil menengah.

Founder dan Director Indecon, Ary Suhandi, menuturkan bahwa pengembangan pariwisata di desa tidak hanya memikirkan sisi ekonomi saja, tetapi juga ketahanan.

Baca Juga :   Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Ahrie Sonta menegaskan Millen ditempatkan di tahanan pria tapi penempatannya khusus.

Menurutnya, pariwisata adalah bisnis yang tentunya memiliki risiko. Guna mengantisipasi risiko pariwisata terkait faktor eksternal, fokus masyarakat tidak perlu 100 persen pada pariwisata. Jika faktor eksternal melanda, masyarakat masih bisa bertahan melalui sektor lain seperti pertanian, perikanan, atau ekonomi kreatif.

Displin pada protokol kesehatan
Ary menuturkan bahwa masyarakat bisa menyusun protokol sendiri guna membangun kepercayaan bagi calon wisatawan agar mereka tidak takut berkunjung ke Bintan. Salah satunya adalah seputar kebersihan yang disosialisasikan bagi penggiat pariwisata berbasis masyarakat, maupun bagi pengunjung.

Untuk kebersihan seperti rajin cuci tangan, masyarakat bisa manfaatkan kegiatan tadah air hujan. Terlebih bagi mereka yang tinggal di daerah sulit air. “(Ada juga aturan) tidak boleh menyentuh atau memberi makan satwa liar. Covid-19 berawal dari satwa liar, berpotensi menularkan. Tapi di sisi lain (menyentuh atau memberi makan) akan merubah perilaku satwa,” kata Ary.

Selanjutnya, untuk penggunaan masker, penting bagi masyarakat untuk menekankan terkait sampah medis dalam penyusunan protokol. Masker dan sarung tangan yang sudah digunakan harus dibuang ke tempat pembuangan sampah khusus, dan dilakukan proses insinerasi.

Baca Juga :   Protokol Kesehatan 3M Mulai Diterapkan, Para Pakar Minta Masyarakat Untuk Dukung

Insinerasi merupakan proses pembakaran sampah yang panasnya bisa dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik. “Persiapkan baik-baik, maju secara bertahap. Siapkan bahwa masyarakat betul-betul menerima bahwa pariwisata akan dibuka. Baik tamu atau masyarakat mendukung kegiatan terbukanya kembali pariwisata di Bintan,” tutur Ary.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Bintan, drg Euis Herawati, menuturkan, hal yang paling berat dalam melanjutkan kembali pariwisata adalah kondisi “Aman Covid-19”.

Jika sudah memiliki protokol kesehatan, masalah utama dalam menjalankannya adalah komitmen pelaku pariwisata berbasis masyarakat untuk terus melaksanakannya.

“Ini kerja keras kami dengan Dinas Pariwisata. Bantulah kami, jadilah pelaku dalam upaya pemutusan mata rantai Covid-19 dalam rangka mendukung Aman Covid-19 bagi pariwisata di Bintan,” tutur Euis.

Menurutnya, perubahan perilaku dan beradaptasi untuk hidup lebih bersih dan sehat mampu membuat pariwisata di Bintan segera bangkit.

Editor : Realita Indonesia
Sumber : travel.kompas.com

Bagikan :
error: Content is protected !!