14 Mei 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

Banjir Bandang Gorontalo: 9.415 Warga Mengungsi, Kekurangan Air Bersih dan Makanan

Sejumlah warga di Suwawa Tengah memantau ketinggian air.(Dok. KOMPAS.COM)

Realita Indonesia – Banjir bandang yang melanda Provinsi Gorontalo memaksa 9.415 orang meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang aman. Para pengungsi ini menempati bangunan pemerintah, sekolah, masjid, dan fasilitas lain. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo, Sumarwoto mengungkapkan, para pengungsi berasal dari Kabupaten Bone Bolango, Kota Gorontalo, dan Boalemo.

Ketiga daerah ini yang sejak kemarin dilanda banjir bandang setelah hujan berkepanjangan selama dua hari. “Data yang lain belum masuk, petugas kami masih di lapangan,” kata Sumarwoto, Sabtu (4/7/2020).

Para pengungsi saat ini ditampung di gedung Bele li Mbui, Kesdim, kantor Badan Pertanahan Kota Gorontalo, SDN 38 Kota Timur, Kelurahan Padebuolo, Keluarahan Botu, Keluarahan Talumolo, Keluarahan Bugis dan aula kantor wali kota. “Di Kantor Lurah Padebuolo ada 600 pengungsi, termasuk 30 balita,” ujar Sumarwoto.

Lokasi yang paling banyak pengungsinya adalah di Kelurahan Botu yang menampung 1.000 orang, Keluarahan Bugis 5.225 orang, dan Keluarahan Talumolo terdapat 1.225 orang. Sumarwoto mengakui pihaknya tidak serta mampu melayani pengungsi yang jumlahnya ribuan.

Baca Juga :   Jokowi : Bakal Terbitkan Perpres Manajemen Talenta Untuk Wadahi Anak Muda Berkreasi

Dibutuhkan peran serta instansi dan swasta untuk membantu warga yang mengungsi. Meskipun air sudah menyurut, sejumlah kawasan masih tergenang air akibat kondisi permukaan yang cekung.

Lumpur masih terlihat di dalam rumah-rumah warga yang masih berada di pengungsian. “Tidak ada air untuk membersihkan rumah, kami perlu air banyak,” kata Zubair, warga Kota Gorontalo.

Butuh selimut
Pengungsi korban banjir bandang membutuhkan air minum, makanan, dan selimut. Makanan siap saji dari dapur umum yang dibangun Pemerintah Provinsi Gorontalo belum cukup memenuhi kebutuhan masyarakat yang menempati sejumlah titik pengungsian di Kota Gorontalo.

“Kami sudah melaporkan ada 11 orang yang masuk kelompok kami. Namun, nasi yang dibagikan hanya enam bungkus,” kata Almaarif (44), warga Puncur Kelurahan Bugis yang membawa keluarganya ke Bele li Mbui, Kota Gorontalo. Almaarif beranggapan petugas yang membagikan makanan hanya melihat kehadiran warga di gedung ini.

Baca Juga :   Kemenag : Lebih Jeli, Masyarakat Harus Waspadai Buku Nikah Palsu

Padahal anggota keluarga mereka terutama yang laki-laki sedang berjaga-jaga dan membersihkan rumah juga perlu makanan. “Tidak ada makanan di rumah, semua basah dan penuh lumpur,” ujar Almaarif. Selain makanan siap saji, Almaarif dan pengungsi lainnya juga sangat membutuhkan air minum dan selimut. Jumat malam para pengungsi tidur seadanya, hanya beralaskan tikar tanpa selimut.

Martin Zubair (44), pengungsi asal Kelurahan Bugis meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan kebutuhan pokok seperti air minum dan makanan. “Makanan dan air minum saja, karena ini sangat mendesak, terutama anak-anak. Sejak kemarin mereka sudah terkena air banjir di rumah,” ujar Martin. Di Bele li Mbui ini terdapat 428 pengungsi yang sebagian besar adalah warga Puncur Kelurahan Bugis, Kecamatan, Kota timur, Kota Gorontalo.

Baca Juga :   Infrastruktur Jembatan Teluk Kendari Akan Dorong Konektivitas, Dan Sudah Diresmikan Jokowi Lho!

Meluas
Banjir bandang yang menerjang permukiman warga di Provinsi Gorontalo makin meluas. Luapan Sungai Bone telah menerjang empat kecamatan di Kabupaten Bone Bolango, Suwawa Timur, Suwawa, Suwawa Selatan dan Botupingge. Di Kota Gorontalo yang menjadi hilir Sungai Bone, banjir bandang juga merendam tiga kecamatan, Hulontalangi, Kota Selatan, dan Kota Timur. Sementara Kota Barat juga terjadi banjir dan longsor akibat curah hujan yang tinggi di kawasan perbukitan kapur.

Di Kabupaten Boalemo banjir juga merendam sejumlah kecamatan, yaitu Paguyaman Pantai, Dulupi dan Tilamuta. Bupati Bone Bolango Hamim Pou terjun langsung mengevakuasi warga di tengah gelap gulita akibat listrik padam. Evakusi dilakukan terutama pada wanita dan anak-anak yang segera membutuhkan pertolongan. “Kami pun berupaya menjemput beberapa warga yang terjebak banjir dekat Bendungan Alale, Suwawa Tengah,” kata Hamim Pou.

Editor : Realita Indonesia
Sumber : regional.kompas.com

Bagikan :
error: Content is protected !!