Bakal Pengaruhi Pasar Modal di Indonesia, Sederet Sentimen Ini Apa Aja?

Realita Indonesia – Beberapa sentimen yang mungkin mempengaruhi pergerakan IHSG pada pekan ini. Salah satunya, pasar keuangan juga menghadapi ketidakpastian politik Amerika Serikat menjelang pemilu di bulan November. Dikabarkan Presiden AS Donald Trump menolak berkomitmen untuk transfer kekuasaan secara damai jika dia kalah dalam pilpres.

“Hal ini membuat sangat mungkin hasil pemilu disengketakan. Hal ini memang di bantah Partai Republik tentang penolakan Presiden Donald Trump untuk berkomitmen pada transfer kekuasaan secara damai bila Trump kalah dalam pemilu November,” ujar Direktur Investama Hans Kwee.

Lalu, pasar keuangan dunia mendapatkan sentimen negative dari perkembangan paket stimulus fiskal untuk mengatasi dampak pandemi Covid 19. Dikabarkan Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat AS sedang menyiapkan rencana paket stimulus virus corona senilai USD2,2 triliun.

“Diharapkan paket ini bisa divoting pada pekan depan. Paket ini menjadi sangat penting untuk membantu Amerika Serikat keluar dari resesi,” katanya.

Baca Juga :   Jokowi Menekan PP Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan Untuk Para Buruh Yang Kena PHK

Selanjutnya peningkatan kasus covid 19 dan rencana penguncian kembali membuat pemulihan ekonomi akan terganggu, maka stimulus fiskal sangat dibutuhkan. Pejabat Federal Reserve pekan lalu berbicara tentang pentingnya lebih banyak stimulus fiskal karena kebijakan moneter terbatas efektivitasnya dalam memulihkan perekonomian.

“Pernyataan ini menurunkan kredibilitas the Fed sendiri tetapi mendorong pemerintah dan parlemen segera meloloskan stimulus fiskal baru untuk mengatasi dampak covid 19,” katanya.

“Timbul kekhawatiran gelombang kedua covid 19 terjadi di beberapa Negara Eropa telah mendorong beberapa Negara seperti Inggris, Jerman dan Prancis melakukan pembatasan baru,” katanya.

Baca Juga :   IDI Sebut Masyarakat Harus Waspada Virus Corona Varian N493K, Katanya Lebih Pintar Dari Sebelumnya

Selanjutnya, terkait investor lokal cukup kuat mengangkat indeks di tengah tekanan jual asing, tetapi tidak tahu sampai berapa lama. Salah satu faktor yang diperkirakan membuat dana asing keluar adalah penanganan covid-19 yang lemah dan kasus baru yang terus naik.

“Pengetesan di Indonesia juga masih rendah hanya 11,560 orang per 1 juta populasi jauh di bawah Filipin 32,672 apalagi Amerika Serikat yang mencapai 309,524,” katanya.

Ditambah dengan berita revisi undang-undang (UU) Bank Indonesia yang berpotensi menghilangkan independen Bank Sentral serta pengalihan pengawasan industri keuangan dari OJK ke BI membuat dana asing deras keluar dari pasar keuangan Indonesia. Merubah fondasi industry keuangan di tengah badai sangat berisiko merobohkan bangunan ekonomi Indonesia.

“Isu ini sudah dibantah tetapi berkontribusi pada pelemahan nilai tukar Rupiah dan keluarnya dana Asing dari pasar keuangan Indonesia beberapa pekan sebelumnya. Rupiah yang melemah ditambah keluarnya dana asing membuat IHSG sulit menguat signifikan dan cenderung sideways sampai akhir tahun,” katanya.

Baca Juga :   Vaksin Gotong Royong Harus Gratis untuk Karyawan dan Keluarganya Kata Menkes

Nantinya, pasar saham Indonesia di akhir pekan menguat didukung oleh klaim pemerintah provinsi DKI Jakarta bahwa penerapan PSBB total jilid dua berhasil menekan angka kasus baru covid 19. Selain itu kabar vaksin perusahaan China yang berhasil menjadi tambahan sentimen positif.

Kabar vaksin ini ternyata hanya cuplikan pernyataan pejabat WHO sebelumnya ketika vaksin asal China memasukai uji tahap lanjutan.

“Pasar saham terlihat dipengaruhi berita positif dan negative. Kami perkirakan IHSG berpeluang menguat di awal pekan dan cenderung melemah di tengah sampai akhir pekan. IHSG bergerak dengan level support di level 4,820 sampai 4,754 dan resistance di level 4,978 sampai 5,187 dengan kecenderung melemah dalam sepekan kedepan,” pungkasnya.

Editor : Realita Indonesia
Sumber : sindonews.com
Bagikan :
error: Content is protected !!