Andi Tatat menjelaskan bahwa Rizieq mengalami kelelahan dari harus masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Realita Indonesia – Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab dirawat di RS Ummi, Kota Bogor sejak Rabu (25/11). Direktur RS Ummi, Andi Tatat menjelaskan bahwa Rizieq mengalami kelelahan dari harus masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Jadi dari hasil screening di kami, Alhamdulillah tidak mengarah ke Covid. Memang ada riwayat pasien di RS Ummi jadi diarahkan ke sini untuk pemeriksaan kesehatannya,” kata Andi.

Kata Andi, Rizieq dalam kondisi sehat dan segar meski di bawah pengawasan tim medis RS Ummi. “Insyaallah aman. Hasil lab rontgen hasil semuanya baik,” jelasnya.

Kata Andi, Rizieq dirawat . Dia pun tidak bisa memperkirakan kapan tokoh FPI itu diperbolehkan pulang. “Kita lihat pantauan. Dipantau terus dan supaya bisa istirahat. Saat ini masih istirahat total,” katanya.

Andi menjelaskan, keluarga Rizieq, tidak mengizinkan tamu siapapun, bahkan dari DPP FPI tidak diizinkan untuk masuk. “Sesuai dengan arahan, memang protokol semua pasien tidak boleh ada yang menjenguk. Dari keluarga juga seperti itu, bahkan dari DPP FPI juga dilarang masuk. Jadi beliau hanya ditemani istrinya,” katanya.

Ketua DPP Front Pembela Islam (FPI) Slamet Maarif membenarkan Rizieq Syihab sedang menjalani perawatan di di RS Ummi, Kota Bogor sejak Rabu (25/11) kemarin. Dia menyebut Rizieq mengalami kelelahan usai menghadiri sejumlah kegiatan.

“Alhamdulillah, Habib Rizieq dalam kondisi sangat baik, sehat wal’afiat. Sejak kemarin datang ke RS UMMI memiza, general check-up,” kata Slamet.

“Karena sempat kelelahan saat disambut, disalami, ribuan umat Islam yang rindu dan antusias,” sambungnya.

Sementara itu, Slamet telah memastikan bila Habib Rizieq dirawat karena Covid-19. Hal itu telah dikonfirmasi berdasarkan hasil tes swabnya yang menyatakan negatif Covid-19. “Hasil swab negatif,” kata Slamet.

Baca Juga :   Pelayanan GeNose di Stasiun Bandung Sedang Di Tinjau Menhub Budi

Untuk saat ini, kata Slamet, Habib Rizieq masih menolak untuk ditemui termasuk oleh pengurus DPP FPI. “Sejak awal kami hanya tahu istirahat total di suatu tempat dan tidak boleh ada yang ganggu. Termasuk Pengurus FPI dan PA 212 pun tidak diizinkan bertemu,” terangnya.

Namun, Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto tidak percaya dengan tes swab dilakukan RS UMMI terhadap Rizieq Syihab. Ketidakpercayaan itu setelah tes dilakukan secara diam-diam tanpa berkoordinasi dengan dinas kesehatan.

Bima mengatakan, swab test terhadap Rizieq Syihab dilakukan oleh MER-C yang tidak terdaftar dalam Satgas Penanganan Covid-19 nasional. “Saya sudah sampaikan jangan lupa koordinasi karena tetap harus disaksikan dinkes dan harus disepakati hasil pemeriksaannya mau dikirim ke mana. Labnya harus disepakati bersama,” kata Bima.

Bima menjelaskan, dia mendapat kabar swab test itu dilakukan usai salat Jumat (27/11) siang. “Tadi saya tanya langsung dokter Andi dan disampaikan bahwa tidak tahu bahwa swab dilakukan saat salat Jumat. Artinya RS Ummi tidak koordinasi dengan kami,” kata Bima.

Bima pun mengutus Dinas Kesehatan Kota Bogor untuk datang ke RS Ummi untuk memastikan kondisi sesuai ketentuan yang ada. “Pihak rumah sakit menerima apa yang saya sampaikan. Mereka siap untuk bekerja sama dan koordinasi. Saya berharap tentunya keluarga dan habib juga bekerja sama. Lebih cepat lebih baik karena kami perlu kepastian terkait layanan RS Ummi,” tegas Bima.

Di tengah ketidakpercayaan itu, Rizieq tiba-tiba sudah pulang dari rumah sakit. pada Sabtu (28/11) malam kemarin. Hal ini pun dibenarkan oleh Kuasa Hukum FPI, Aziz Yanuar.

“Info dari RS sudah pulang, info dari RS tadi malam,” kata Aziz saat dikonfirmasi merdeka.com.

Baca Juga :   Mandiri Kembangkan Layanan Trustee dan Kustodian Untuk Dukung Pasar Modal

Dikonfirmasi terpisah, pihak RS Ummi juga membenarkan pimpinan Ormas FPI itu sudah tidak lagi dirawat di rumah sakitnya. Menurut Direktur RS Ummi, Andi Tatat, menyebut pulangnya Rizieq atas permintaan sendiri.

“Pasien dan keluarga pada Sabtu malam (28/11) menginformasikan ke pihak rumah sakit untuk meminta pulang atas permintaan sendiri,” terang Andi.

“Pihak RS mengedukasi ke pasien dan keluarga mengenai hasil pemeriksaan yang belum ada hasil tapi keluarga tetap memilih opsi untuk pulang,” sambung Andi tanpa merinci pemeriksaan apa yang dimaksud.

Atas permintaan pribadi tersebut, lanjut Tatat, RS Ummi mengaku tidak bertanggungjawab apabila terjadi sesuatu pada pasien yang memaksa diri untuk pulang.

“RS UMMI tidak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada pasien yang memaksa pulang,” katanya.

Selain itu, pihak Rizieq juga telah menandatangani dokumen yang menyatakan kepulangannya dari RS atas kemauan sendiri.

“Oleh karenanya, pasien bersedia menandatangani dokumen bahwa kepulangan sepenuhnya atas kemauan pasien dan keluarga,” jelasnya.

“Istilah di rumah sakit kejadian tersebut merupakan pulang atas permintaan sendiri, bukan RS yang memulangkan,” tutup Andi.

Kepulangan Rizieq pun membuat berang. RS UMMI dipolisikan oleh Bima Arya meski belakangan laporan tersebut dicabut. Namun, polisi tetap akan memeriksa pihak RS UMMI.

Direktur RS Ummi Andi Tatat menjelaskan, pelaksanaan tes PCR terhadap Habib Rizieq dilakukan MER-C. Pihak RS bukan sengaja menutupi hasil swab test terhadap Rizieq.

“Tidak ada maksud dari kami untuk menutupi. Kami akui ada kelemahan dalam komunikasi, sehingga terkesan menghalang-halangi. Seharusnya, saat ini tim dokter pribadi melakukan tes. Sesuai kesepakatan antara saya dan pemkot harus disaksikan. Kami menyampaikan permohonan maaf kepada Satgas Covid-19 Kota Bogor,” kata Andi.

Baca Juga :   Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk Luhut Binsar Panjaitan menjadi pengganti sementara Menteri Edhy Prabowo.

Sementara itu, Menko Polhukam Mahfud MD memastikan, pihak Rumah Sakit Ummi Bogor dan Organisasi Sosial Kemanusiaan MER-C akan dimintai keterangan terkait hasil swab test Rizieq Syihab. Mahfud meminta kedua belah pihak kooperatif untuk hadir memberikan keterangan.

“Dimintai keterangan mungkin hanya data-data teknis. Tetapi diminta keterangan itu harus datang, harus kooperatif,” kata Mahfud Md.

Mahfud menegaskan, pemanggilan bukan berarti kedua pihak bersalah. Hanya sekadar dimintai data.

“Tidak mesti itu diminta keterangan itu sudah dinyatakan bersalah, mungkin hanya dimintai keterangan, jam berapa datang, siapa saja yang masuk dan sebagainya jadi tidak harus dia melanggar UU,” kata Mahfud.

Mahfud memperoleh laporan bahwa MER-C tidak memiliki laboratorium. Tidak hanya itu, organisasi tersebut juga tidak memiliki kewenangan untuk melakukan tes.

“Berdasarkan catatan MER-C itu tidak memiliki laboratorium dan tidak terdaftar jaringan yang memiliki kewenangan untuk melakukan tes,” ungkap Mahfud.

Selain itu, Mahfud meminta agar Rizieq Syihab untuk kooperatif dalam rangka penegakan hukum untuk melakukan tracing. Hal tersebut bertujuan untuk keselamatan masyarakat.

“Sebab itu maka dimohonkan kepada saudara Muhammad Rizieq Syihab untuk koperatif dalam rangka penegakan hukum. Kalau merasa diri sehat tentunya tidak keberatan untuk memenuhi panggilan aparat hukum memberikan keterangan keterangan hukum yang diberikan demi keselamatan bersama,” katanya.

Dia menjelaskan, walaupun Rizieq merasa sehat tetap harus kooperatif. Sebab bisa saja Rizieq tertular dari orang lain.

“Bisa saja karena beliau adalah tokoh menjadi kerumunan bisa saja beliau terancam ditulari oleh orang lain karena berkaitan dengan orang-orang banyak yang secara teknik kesehatan sangat membahayakan,” jelasnya.

Sumber : Merdeka..com

Editor : Realita Indonesia

Bagikan :
error: Content is protected !!