12 Juni 2021

Realita Indonesia

Platform Blog & Publikasi Online

Akibat Pandemi Covid-19, Jokowi Ingatkan Potensi Krisis Pangan Dan Singgung Soal Tahu Tempe

Realita Indonesia – Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengingatkan jajarannya untuk berhati-hati dengan potensi terjadinya krisis pangan akibat pandemi Covid-19, seperti yang diperingatkan oleh Organisasi Pangan dan Agrikultur alias FAO beberapa waktu silam

Potensi krisis pangan tersebut, kata dia, bisa terjadi akibat adanya pembatasan kegiatan masyarakat, hingga pembatasan distribusi barang antar negara. Akibatnya, distribusi pangan juga terkendala.

“Kita tahu beberapa minggu terakhir ini, urusan yang berkaitan dengan tahu, tempe, dan kedelai menjadi masalah juga karena tadi,” ujar Jokowi dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian 2021, Senin, 11 Januari 2021.

Jokowi mengatakan dengan penduduk Indonesia yang melebihi 270 juta jiwa, pengelolaan pangan harus diseriusi secara detail. Khususnya, untuk komoditas pertanian yang hingga kini masih diimpor.

Baca Juga :   Menko Polhukam menyebut MIT jelas merupakan gerakan kejahatan, bukan keagamaan.

“Kedelai hati-hati. Jagung, hati-hati. Gula, hati-hati. ini yang masih jutaan ton. bawang putih, beras. Meskipun sudah hampir dua tahun kita tidak impor beras, saya akan lihat kondisi lapangannya apakah bisa konsisten kita lakukan untuk tahun mendatang,” kata Jokowi.

Jokowi ingin persoalan tingginya impor masing-masing komoditas itu perlu diselesaikan. Ia meminta Kementerian Pertanian mencari desain yang baik untuk menyelesaikan perkara tingginya impor tersebut.

“Urusan bawang putih, urusan gula, urusan jagung, urusan kedelai dan komoditas lain yang masih impor harap menjadi catatan dan segera dicarikan desain yang baik agar bisa kita selesaikan,” ujar Jokowi. “Tidak bisa kita lakukan hal konvensional, monoton seperti yang dilakukan bertahun-tahun.”

Baca Juga :   Jembatan Penghubung di Lumajang Terputus Oleh Lahar Dingin Gunung Semeru Memutus

Sebelumnya, harga kedelai di pasaran naik dari semula Rp 6.500 menjadi Rp 9.500. Kementerian Perdagangan menyebut penyebabnya adalah harga kedelai internasional yang meningkat, akibat lonjakan permintaan dari Cina ke negara produsen, Amerika Serikat.

Akibat harga kedelai yang melonjak, produsen tahu dan tempe di Indonesia sempat mogok beberapa hari sampai 3 Januari 2020. Di beberapa rumah makan, ada yang tetap menjual tahu tempe dengan harga lebih mahal. Ada juga yang memilih tidak menjual sama sekali.

Editor : Realita Indonesia

Sumber : Tempo.co

 

Bagikan :
error: Content is protected !!